Saturday, 11 May 2024

Sepi

Di tengah kota yang hiruk pikuk,
yang tak tidur di sebagian sudutnya,
yang dipuja keindahan alamnya,
yang dijunjung tinggi adat budayanya,
yang berlomba-lomba menawarkan surga.

Hanya ada aku dan sendiriku,
aku dan tangis diam-diamku,
dan aku dengan semua isi kepalaku.

Rasanya seperti dalam kandang,
tak bisa ke luar bebas,
rasanya selalu dalam pengawalan,
tak bisa lari melesat pesat,
rasanya selalu ada sekat,
keterbatasanku, dinding itu, jarak itu,
seperti rantai kasat mata,
dan aku merasa ditinggal dunia.

Monday, 13 February 2023

Tenang Untukmu

Karena senyummu, lembutmu dan manismu, 
Aku pernah jatuh hati,
Karena kamu yang mengalah, kamu yang berselah, dan lebih memilih saudara tanpa hubungan darah,
Aku berpindah hati.

Kamu dan aku tak pernah benar-benar bersama,
Kenangan kita hanya ribuan pesan, canda dan pertemuan di malam buta di rest area.
Ketika kamu telah berbahagia dan meminang pujaan hati,
Aku merasa sangat sendiri dan menangis sejadi-jadi.

Rasanya, kita tidak pernah saling membenci,
Masih ada kabar, sapa dan tawa,
Sampai kuterima kabar duka.

Untuk janji yang belum terpenuhi,
Untuk kata yang pernah menyakiti,
Untuk sikap yang telah melukai hati,
Aku meminta maaf, memaafkanmu dan merelakanmu pergi.

Untuk kenangan yang indah,
Untuk pengalaman yang tak terlupakan,
Untuk persahabatan yang tak terpisahkan,
Terima kasih, kehadiranmu telah mewarnai hidupku.

Untuk semua kebaikan dan hangatmu,
Semoga surga menjadi tempat abadi yang nyaman bagimu.





*late post, dedicated to someone,

May He Rest in Peace*

Monday, 3 October 2022

Dalam Badai Jakarta

Diantara jadwal meeting, tumpukan email dan list pekerjaan yang belum diselesaikan, tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan di kepala "Di moment kapan ketika kamu sadar kalau kamu benar-benar sendiri?". Sebuah perasaan di mana kita merasa sendiri dan tidak tahu dengan atau kepada siapa harus berbagi. 
Hujan badai dan petir di Senin sore ini membuat saya merinding dan ketakutan, entah karena apa, padahal ini bukan pertama kalinya saja mengalami hal seperti ini sendirian. Saya pun dalam kondisi aman tanpa kebasahan setetes pun. 
Ah, mungkin saya menjadi tiba-tiba mellow karena sesaat sebelum hujan turun, saya dikirimi sebuah foto yang membuat hati saya sakit. Suatu hal yang mampu memporak-porandakan pertahanan hidup saya, yang bisa membuat air mata sulit ini untuk berhenti dan membangunkan rasa bersalah saya setiap saat.

Saya ingin bilang "Saya takut, takut badai ini pertanda atau membawa sesuatu." tapi tidak tahu kepada siapa menyampaikan itu, membagikan perasaan saya sekarang. 

Di saat ini, saya benar-benar merasa sendiri.
Dan beruntunglah kamu bila ada yang menemani, 
baik yang duduk di sampingmu, 
atau dia yang selalu ada di hatimu.




Cheers!

Tuesday, 13 September 2022

Years 2022 Update

Apa kabar kamu? tempat saya menulis dan menumpahkan ide dan pikiran yang sekiranya masih layak dibaca khalayak ramai. Sudah hampir setahun dari tulisan terakhir saya sampai sekarang, dan saya bingung harus cerita mulai dari mana karena merekap kejadian yang terlalu banyak rasanya mundur terlalu jauh dan membutuhkan banyak waktu bila hanya ditulis dalam 1 postingan saja. 

Jadi kita mulai dari mana? entahlah, yang jelas tahun ini saya rajin mengisi jurnal harian, saya punya buku catatan untuk menulis list pekerjaan kantor, juga buku di mana saya bisa menulis lepas tanpa menggunakan topeng apapun. 

Bicara soal topeng, semakin ke sini, saya merasa topeng saya semakin sedikit dan semakin tipis. Saya semakin nyaman hanya bisa tiduran di akhir pekan sendirian, tidak perlu keluyuran demi alasan pergaulan. Yang hal itupun membuat saya semakin sedikit berteman, sepertinya sekarang teman dekat saya hanya bisa dihitung jari dalam 1 tangan. Seleksi alam terjadi karena banyak alasan, bisa saja karena saya yang semakin menyebalkan, sulit diajak ketemuan atau memang saya udah ga asik lagi.

Awal tahun 2022 ini saya pindah ke kantor baru, perusahaan yang lumayan, fasilitas ok, tapi pekerjaannya bikin kewalahan. Semakin membangunkan jiwa gila kerja yang selama ini masih belum sering terganggu. Kegilaan dengan load pekerjaan ini membuat saya juga semakin menghargai waktu istirahat, tapi juga semakin susah untuk bangun pagi, hahaha... Pernah di suatu hari, ketika Sabtu malam hampir tengah malam dan pikiran saya setengah melayang karena pengaruh alkohol, yang saya lakukan malah menyalakan laptop, membuka e-mail dan menyelesaikan pekerjaan agar hari Senin saya lebih ringan. 

Hal yang saya paling sering keluhkan adalah meeting pagi setiap hari di akhir bulan selama seminggu. Tepat jam 8 pagi meeting dimulai dan menuntut otak saya harus segera fokus dan tune-in. Tapi lucunya, meeting pagi tanpa mandi sudah menjadi hal biasa bagi teman - teman kantor saya, dan ini sangat mendukung saya yang juga kadang malas mandi. Jangan harap meeting kami menggunakan video karena saya yakin, kondisi masing - masing sungguhlah tidak layak tayang. Banyak cerita seru dari kegiatan meeting super pagi ini, dari mulai teman yang on mic dengan suara bantal, backsound bayi menangis atau anak merengek, dan hal - hal lucu lainnya.

Karena kondisi pekerjaan dan kebiasaan baru lainnya yang membuat saya lebih memilih beristirahat saja di akhir pekan tanpa diganggu atau tanpa melakukan apapun, apalagi untuk pulang ke Bandung, rasanya semakin berat saja. Saya pun belum tahu bisa bertahan berapa lama dengan culture perusahaan yang seperti ini. Saya yang mendambakan hidup tenang tinggal di pinggir pantai sekarang masih harus mencari celah waktu mencari damai agar bisa sehat jiwa raga dan waras. 

Yang saya lakukan untuk menjaga kewarasan salah satunya adalah dengan menulis, berbagi cerita di buku, blog, atau dengan orang yang saya rasa bisa saya tumpahi isi kepala dan keluh kesah saya.

Semoga kita semua diberikan kesehatan dan kewarasan, juga kesadaran akan hal tersebut dalam diri kita. Semoga kita semua berbahagia.



Cheers!

Friday, 22 October 2021

Being Open To Vulnerability

Belakangan ini sering banget saya mendengar kata vulnerability, kata ini selalu dikaitkan dengan Kesehatan mental dan kondisi psikologis seseorang. Kalau arti dari beberapa artikel yang saya baca di google sih kata tersebut bermakna sebuah kondisi rentan yang bisa mengganggu kognitif dan psikologis seseorang, yang dapat menyebabkan depresi atau stress. Dan terbuka dengan sifat tersebut berarti kita bisa menerima kondisi diri kita sendiri atau orang lain yang rapuh, rentan dalam situasi yang tidak pasti.

Kenapa saya menulis mengenai salah satu kondisi dari kesehatan mental ini, karena saya pun sedang belajar untuk menerima kondisi ini secara pribadi, maupun dari orang-orang terdekat saya. Ketika saya mengenal seseorang yang baru, katakanlah seorang pria yang saya temui dari situs kencan, saya akan sampaikan bahwa cara untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain adalah dengan komunikasi. Ketika komunikasi lancar, hal ini dapat membuka semua obrolan dan diskusi, pun termasuk hal yang lebih dalam dan lebih serius lagi.

Tapi ternyata, komunikasi saja tidak cukup. Dari pengalaman yang saya alami beberapa kali, komunikasi itu hanyalah sebuah pondasi. Selanjutnya adalah tahapan yang akan saling mengisi. Katakanlah satu waktu, saya berkenalan dengan seorang pria, komunikasi kami lancar dan tidak pernah putus walaupun kami sibuk dengan pekerjaan dan hal lainnya masing-masing. Suatu ketika, saya menghadapi masalah keluarga yang sangat besar yang saya sendiri pun masih belum sanggup untuk mencernanya.  Pria tersebut menuntut agar saya dapat berbagi masalah yang sedang dialami tersebut, dan dari ucapannya terdengar bahwa dia tidak percaya dengan saya. Katanya, saya menjadi seorang pribadi yang berbeda ketika jauh darinya dan bertemu dengan keluarga saya. Sebetulnya, saya ingin berbagi keluh kesah dengannya dan menjadikannya tempat mengadu, tapi ternyata dia tidak bisa menunggu dan saya putuskan untuk tidak melanjutkan kedekatan kami.

Lain halnya dengan yang saya alami kemarin, ini kebalikannya, seorang pria (lainnya) mengatakan dia sedang menghadapi masalah yang cukup berat dalam hidupnya. Sebagai seseorang yang dekat dengannya, saya katakan bahwa dia bisa menceritakan apapun masalahnya kepada saya bila memang dia mau berbagi. Yang terjadi adalah, dia sangat membatasi komunikasi dan tidak bercerita apapun mengenai masalah dan kehidupannya. Sampai pada suatu kondisi di mana saya tidak dapat meneruskan kedekatan kami karena kondisi seperti ini hanya akan saling menyakiti.

Dengan sadar saya mengingat bahwa kejadian ini telah menjadikan saya mengalami posisi di kedua belah pihak, yang dituntut dan yang menuntut. Kemudian juga hal ini semakin membuat saya yakin ketika saya sedang mengikuti sebuah drama korea, di mana ceritanya pemeran utama pria mengalami masalah yang sangat berat dan menggangu kesehatan mentalnya, dan pacarnya, sang pemeran utama perempuannya bersedia menunggu pria tersebut untuk bercerita tanpa melepaskan genggamannya dan komunikasinya.

Jadi, selain komunikasi, untuk menerima seseorang dalam kondisi psikologis yang rentan, bersedia menunggu orang tersebut untuk terbuka dan menceritakan beban atau masalah yang dihadapinya juga sangat penting. Membagikan rasa takut dan rapuh dalam diri kita kepada orang lain tidaklah mudah, terlebih bagi orang mempunyai trust issue. 

Semua orang di dunia ini pasti memiliki masalah, baik besar atau kecil, yang menganggu kondisi mental dan psikologisnya. Mengenai sanggupkah kita terus memegang tangannya, menunggunya dan terus bersamanya sampai orang tersebut mampu berbagi, adalah sebuah kepercayaan dan kebahagiaan tersendiri.


Semoga kita semua dalam kondisi berkesadaran untuk selalu menjaga kesehatan mental.




Namaste

Friday, 3 September 2021

Intellectual Orgasm

Sejujurnya, saya baru mendengar istilah Intellectual Orgasm itu beberapa hari yang lalu ketika saya bertemu dengan seorang pria, saya mengenalnya melalui salah satu aplikasi kencan yang saya gunakan. Malam itu kami bertemu sambil makan malam, kami ngobrol panjang lebar soal kesibukan sehari-hari, hobi, dan lain-lain, sampai dengan di satu waktu dia menyebutkan bahwa apa yang saya cari ternyata adalah kepuasan intelektual. 

Hal ini bikin saya sadar bahwa percakapan seperti ini yang saya idamkan, sebuah obrolan yang membuat saya menjadi berpikir, mengevaluasi diri, membangunkan rasa ingin tahu yang lebih dalam sehingga terjadilah percikan-percikan, baik itu dipikiran maupun di hati. Hehehe...iya hati, karena saya kenikmatan bertukar pikiran dan obrolan panjang itu tidak pernah saya temukan lagi setelah saya kehilangan kontak dengan seseorang yang saya berani menyebutnya "rumah".

Teman saya bilang, pembicaraan intelektual tersebut bisa saja menjadi toxic bila memang dari apa yang dibicarakan menggiring pada depresi, self-hatred, pesimisme, apatis dan tindakan lainnya, apalagi sampai menjadi anarkis. Nah, pengalaman atas kenikmatan dari diskusi intelegensia ini juga berpengaruh besar apabila apa yang dibicarakan itu semua di-amin-kan, tanpa disaring terlebih dahulu.

Untuk jenis kepuasaan seperti ini, saya tidak bisa mendapatkannya dengan mudah dan berharap setiap pembicaraan dengan teman pria baru membawa kenikmatan dan memberikan percikan. 

Saya juga tidak merasa bahwa saya orang yang pintar dengan intelegensi tinggi, saya hanya seorang yang suka mengobrol, suka mendengarkan dan belajar hal baru. Saya adalah penikmat akan sensasi klimaks dari pembicaraan yang membawa saya ke dunia baru.




Cheers!

Monday, 21 June 2021

Bulan Paradoksal

Semua terjadi begitu cepat sampai saya tak sempat menarik napas sejenak. Hantaman bertubi-tubi rasanya membuat hati semakin keras dan menguras kantong air mata. Perjalanan dari Jakarta ke Bandung seolah memberikan saya waktu untuk berganti peran. Orang - orang terdekat mungkin sudah paham, bila saya ke Bandung, saya akan menjadi orang yang berbeda, orang yang jarang memegang ponsel, baik itu untuk berkomunikasi atau pun hanya untuk update sosial media. Peran yang saya jalankan membuat saya menerima 2 komplain mengenai hal ini dari orang yang baru mengenal saya kemarin sore.

27 Februari 2020 lalu Bapak meninggal, tepat sebelum pandemi di Indonesia dan lockdown total. Sepanjang tahun 2020, karena pandemi dan hal lainnya saya semakin jarang pulang ke Bandung. Keluarga besar saya sudah mengecap saya sebagai anak durhaka yang lupa dengan orang tua. 15 bulan lebih 1 hari kemudian, Mamah menyusul Bapak. 28 Mei 2021 adalah hari di mana saya tidak memiliki orang tua lagi.

Masalah tidak hanya berasal dari saya yang dicap sebagai anak yang lupa akan orang tua saja, masalah lain bermunculan yang harus diselesaikan dengan benar dan dalam tempo secepatnya. Masalah yang tentu saja menyita perhatian, energi, materi dan hal - hal lainnya. 

Semesta mengatur dengan caranya sendiri, ada kelahiran, kematian, tangis, tawa, perpisahan, pernikahan dan kebersamaan yang terjadi di keluarga kami dengan serentak. Saya menjalaninya sebagai sebuah tanggung jawab, anak terhadap orang tua, adik terhadap kakak, sebagai seorang kakak yang melindungi dan memastikan adik-adiknya dalam keadaan baik, sehat dan waras, dan tanggung jawab sebagai bagian dari keluarga. 

Peran yang dijalani terkadang membuat saya meneteskan air mata, saya masih manusia. Saya tidak baik-baik saja, tapi tetap berusaha untuk menjalani semuanya dengan sebaik-baiknya. 


Om tare tuttare ture soha


Friday, 12 March 2021

Menjaga Cahaya

Syarat dari pekerjaan yang kutawarkan tidaklah sulit, cukup menjaga agar cahaya itu tetap menyala,
Namun para penjaga itu berguguran, hari demi hari, minggu demi minggu, menjadi bulan, lalu berubah tahun,
Kutanya apakah sesulit itu untuk menjaganya? 
Sebagian menjawab tak bisa menahan panasnya, sebagian lagi hanya berkata mereka tak sanggup memelihara baranya,
Kemudian aku bertanya, tak adakah yang cukup berani dan bernyali merawat kilau itu agar senantiasa berpendar indah?
Datanglah seorang yang berkata bahwa dia akan menjaga dan memelihara sinarnya, asalkan aku turut serta,
Untuk berapa lama?
Sepanjang kau bisa tantangnya,
Kuperingatkan, jangan beri aku tantangan karena kau mungkin akan kewalahan,
Dia hanya menjawab, waktu yang akan membuktikan.

Cahaya lalu menyala indah, hari demi hari, minggu menjadi bulan, bulan menjadi tahun,
sampai kusadari hanya akulah yang bekerja di sini,
Penantang itu hanya duduk diam menikmati indahnya binar yang berpantulan gemerlap.

Suatu hari, aku sudah tak sanggup lagi,
Tak bisa kubiarkan tetap begini, berlelah sendiri,
Jika pada akhirnya hanya aku yang menjaganya, maka aku tak perlu siapapun lagi untuk pekerjaan itu,
Cahayanya akan ku jaga sendiri,
Sinar gemerlapnya akan ku nikmati seorang diri,
Ternyata menjaga cahaya bukan perkara sulit,
Dengan atau tanpa teman menyertai,
Cahaya itu akan kubuat tetap menyala, selamanya.

Thursday, 31 December 2020

2020 Year End Reflection

Kemarin saya merasa hari saya sangat produktif dan menyenangkan. Sebuah hari di akhir tahun yang menginsipirasi dan penuh apresiasi. Dari sebuah post di sosial media membuat saya ingin berbagi dengan teman-teman lain untuk menulis dan berefleksi di akhir tahun. Karena menurut saya, refleksi itu penting, baik itu yang artinya sebuah kegiatan berkontemplasi atau pun sebuah kegiatan pijat, hehehe...
Tahun 2020 bukanlah tahun yang mudah bagi saya, tapi marilah kita lakukan sebuah perenungan dan evaluasi diri di beberapa jam sebelum tahun berganti.

1.  3 Favorite memories
Ketika saya masuk kantor baru awal tahun 2020, ketika saya berulang tahun menghadiahi diri sendiri sebuah cincin dan juga saya mendapatkan sebuah buket bunga, dan ketika saya kegirangan sekali bisa berendam air hangat penuh busa (dan tawa).

2. What I learn about myself
Saya semakin sadar akan symptoms dan trauma yang saya miliki dan berusaha untuk menerima dan terus belajar untuk sembuh.

3. What mistake that I make
Harus banyak fakta dan banyak ditampar realita untuk membuat saya sadar bahwa seseorang ternyata bisa jadi toxic untuk saya.

4. What lessons did I learn
I should've really listened to the deepest of my heart.

5. How did I grow and heal
By accepting my flaws, keep learning, and meditate.

6. What do I need to forgive myself or others for
I should forgive myself that I didn't visit my father soonest before he passed away.

7. Who support me the most
My best friends and my self.

8. What habit do I change
Since the pandemic, I skipped doing yoga and only did some stretching. Not a good habit, but I admit it.

9. What did I want to do, but didn't
Having a tattoo, but not yet until 31 December 2020. 

10. What stressed me out the most
My family situation.

11. How did I practice self-care
I started doing a skincare routine, started to take multivitamins other than only honey lemon shots as my main healthy booster. 

12. What challenges did I overcome
That turns out I was fine and happy to stay at home for 3 months, even though it was hard for the first week. And also I did overcome 21 days meditation challenge and 30 days writing challenge.

13. What is the best and the worst thing that happened to me
The best, I love myself more than anything. The worst, I got a trauma after my dad passed away that made me sleep with a lamp on until now. 

14. What am I most proud of
I survived living on my own until now.

15. What are some tough decisions I made
That I choose myself sanity over other things.

16. What skills did I acquire
Was being a detective, never-ending scrolling on social media, and lay down on my bed counted as a skill?

17. What made I laugh the hardest
When I watch a funny video on youtube

18. What do I want to do differently next year
Being a better person, read more, and get my body to move more than in 2020.


Dan sebagai penutup, as I got inspiration from the pray from the meditation before the writing started, I hope I didn't write it wrong. 


May you and I be loved and kind,
May you and I be inspired and inspirer,
May you and I be motivated and motivator,
May you and I be happy and healthy,
May you and I live abundantly.



Happy New Year 2021!





Tuesday, 15 December 2020

A Devotion

Bentuk dari ketakutan atau sulit untuk mulai akan sebuah komitmen itu banyak macamnya. Contohnya saja seperti dalam menulis ini, sulit sekali rasanya berkomitmen untuk rajin menulis minimal seminggu sekali, apa lagi kalau tiap hari, pasti alasannya akan lebih banyak lagi. Program tantangan menulis hanya sekadar tantangan yang bisa dilewati lalu kembali lagi ke kebiasaan lama, bahkan dalam menyelesaikan tantangan pun juga masih sering terlambat. Saya berbicara tentang diri saya sendiri, sedang mengaca, bila memulai komitmen untuk menulis saja sulit apa lagi untuk memulai komitmen yang lebih besar, ya ga sih?

Lagi-lagi saya akan mengikuti apa kata guru saya dulu, semua akan bisa jadi terbiasa bila dipaksa atau terpaksa. Maka kadang sesuatu harus dimulai dengan paksaan, tentu saja hal ini disampaikan guru saya dulu untuk hal yang positif supaya murid-muridnya yang pemalas macam saya ini jadi terbiasa. 

Saya tidak akan melanjutkan topik ini ke hal yang banyak dibicarakan orang, yang identik bahwa orang yang takut berkomitmen itu enggan menikah. Tidak, kita tidak akan membahas itu, terlalu berat. Mari kita bicara mengenai rencana dan komitmen apa yang akan kita lakukan di tahun baru yang akan datang. Sesuatu yang positif yang bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih baik lagi, belajar lebih banyak lagi dan dimulai dari hal kecil. 

Tahun depan saya sudah berakad pada diri sendiri, saya akan menjadi seorang vegan. Saya melakukan ini dengan alasan menjaga kesehatan dan berpartisipasi untuk melindungi (sebagian kecil) bumi. Mungkin saja tahun depan saya melakukan lebih banyak lagi, siapa tahu, ya kan?

Jadi kira-kira, komitmen kecil apa yang akan kamu lakukan tahun depan? Darma kebaikan apa yang akan kamu tebar bagi dirimu sendiri dan bagi orang lain? Tidak perlu lah berpikir terlalu jauh, dalam kondisi seperti saat ini, berkomitmen untuk tetap menjaga kesehatan dan mematuhi aturan juga adalah sebuah kebaikan. Atau mungkin juga berkomitmen pada satu pekerjaan, satu pasangan, satu kebiasaan positif lainnya, apapun itu lakukanlah dengan sungguh - sungguh hingga menjadi sebuah kebiasaan, sebuah asprak pada diri sendiri, hehehe...

Semoga kita selalu diberikan kesehatan dan berbahagia.



Namaste!

Friday, 30 October 2020

Perasaan Menulis Perasaan

Tanggal 30 Oktober 2020 adalah hari terakhir dari tantangan menulis selama sebulan bersama dengan teman-teman saya. Walaupun saya beberapa kali terlambat untuk menulis, tapi saya tetap berusaha untuk terus lanjut.

Tema hari ini adalah bagaimana perasaan kita saat kita menulis selama sebulan ini. Salah satu teman saya yang ikut dalam tantangan ini, mengajak untuk melanjutkan tantangan menulis bulan depan dengan tema menulis cerita fiksi dalam 1000 kata. Katanya, "Masa kita sudah bisa menceritakan tentang diri sendiri selama 30 hari, untuk bikin cerita fiksi ga mau, kan biar maju." 

Sebetulnya bukan saya ga mau, atau ga ingin maju. Tapi saya beneran ga bisa kalau harus bikin cerita fiksi. Saya pernah melakukannya. Well, bukan  cerita fiksi banget sih, saya pernah menuliskan kisah persahabatan saya waktu SMA, saya tulis tangan di buku tulis. Nama sahabat-sahabat saya sedikit disamarkan, mungkin selama seminggu saya mengurung di kanmar dan menulisnya. Begitu selesai, saya malu-malu menunjukkan ceritanya sama teman di bangku depan (bukan sahabat saya) untuk dibaca. Setelah dia baca, dia malah bilang bahwa ini cerita nyata tentang sahabat-sahabat saya dan malah jadi bahan gosip. I felt bad those time. 

Nah, balik ke perasaan selama saya menulis dan melakukan tantangan ini. Saya selalu membiasakan membaca tulisan teman-teman saya sebelum saya menulis. Dan dalam tantangan kali ini, saya merasa lebih jujur dan terbuka tentang diri saya dan keluarga saya. Saya jarang banget menulis cerita tentang Mamah, atau Bapak, atau keduanya atau keluarga saya, tapi dalam tantangan ini, saya beberapa kali membicarakannya.

Saya yang dari SD sudah menulis diary, merasa menulis itu seperti sebuah cara untuk saya berefleksi diri, mencurahkan perasaan dan pikiran, bersyukur dan membuat saya terus belajar. 
Saya yang berkeinginan untuk jadi penulis, walaupun ga tahu penulis apa, semoga ga pernah bosan dan terus semangat dalam memperbaiki diri dan teknik menulis saya.

Semoga apa yang saya tulis, yang saya dan kalian baca, bisa bermanfaat untuk kita semua.




Namaste

Merancang Masa Depan

Jika memang saya masih ada umur panjang dan bertahan melewati pandemi ini, saya sudah mengatur beberapa rencana.

Jika memang penerbangan internasional sudah dibuka kembali, tentu saja hal paling saya tunggu adalah kedatangannya ke sini. Untuk mewujudkan agenda kami, mulai dari menemaninya menonton rally, mencari alat musik yang dia gemari, hingga hal-hal yang hanya bisa kami nikmati sendiri.

Ada kami atau hanya saya sendiri, saya selalu ingin tinggal di sebuah pulau yang rumahnya dekat dengan pantai. Rumah kami atau rumah saya sendiri, nanti, tak perlu besar yang penting bersih dan rapi.

Dengannya atau hanya saya seorang diri, pastilah saya akan tetap mengejar mimpi. Hidup bersamanya atau sendiri seperti sekarang ini, saya tak mugkin lupa untuk meditasi. 

Bila masa di masa yang akan datang tak ada aral melintang, mungkin hal itu bisa terjadi. Di mana kami tak perlu berjauhan, bisa saling menemani dan bicara sepanjang hari.

Bila memang kami bisa bersama, tentu saja saya akan semakin berbahagia.

Mencintaimu

Berbagi kisah tentang mencintai seseorang itu susah - susah gampang, ini berarti saya harus membongkar buku mata pelajaran mencintai yang sudah berjilid -jilid dan berdebu di pojokan sana.

Saya belajar untuk mencintai seseorang dengan cara yang berbeda, dan buku-buku yang tertumpuk di ujung sana berakhir dengan meninggalkan luka, untuk saya, ataupun kami berdua.

Mencintai seseorang tidak harus sama. Karena cinta, saya rela untuk patah hati, asalkan saya bisa mendukung seorang anak untuk berbakti. Karena cinta, saya bahagia melihatnya berbahagia dan tetap menulis 1 puisi disetiap hari ulang tahunnya. Karena katanya cinta tidak harus memiliki, saya mencintainya dalam doa.

Berlatih untuk mencintainya membuat saya menemukan diri sendiri. Tertatih melepaskannya membikin saya bisa terbang lebih jauh lagi. Mencintainya tidaklah sulit, tapi melupakannya sungguhlah rumit.

Thursday, 29 October 2020

Pemberi Inspirasi

Dalam jurnal tantangan meditasi, saya pernah menuliskan 50 orang yang berpengaruh dalam hidup saya sampai saat ini. Untuk saya selain berpengaruh, mereka juga memberikan saya inspirasi mengenai hidup, baik itu secara langsung ataupun tidak, karena 50 orang tersebut bisa yang kita kenal secara pribadi, publik figur yang kisahnya menjadi pelajaran atau sebuah akun anonim yang postingannya selalu memberikan pencerahan. 

Kepada 50 orang yang ada dalam list saya, saya berterima kasih karenanya saya bisa bertahan dan menjadi saya yang sekarang ini. Walaupun saya juga ga tahu sih sekarang ini saya udah jadi apa, kok rasanya sih masih gini - gini aja, tapi ya saya terinspirasi dari mereka itu. 

Saya juga ga tahu kenapa harus 50 orang, tapi kalau 100 orang juga saya butuh waktu yang sangat lama untuk menuliskannya, hehehe... 

Semoga 50 orang yang ada dalam list di jurnal saya selalu diberkati, diberikan kesehatan dan selalu menginspirasi.





*So Hum*

The Schools

Bicara mengenai sekolah, saya adalah anak yang tidak memasuki masa sekolah di Taman Kanak - Kanak, saya sekolah langsung masuk SD. Mungkin karena itu seni saya dalam menggambar, menggunting dan keterampilan melipat kurang bagus, karena biasanya kan hal itu yang dilakukan anak - anak TK.

Dari SD sampai saya kuliah D3, saya selalu bersekolah di sekolah negeri. Saya ga tahu apakah ini prestasi atau merupakan hal yang biasa saja, tapi saya menikmatinya, walaupun saya tidak bersekolah di sekolah favorit atau sekolah yang bergensi. 

Yang saya sadari adalah, semua sekolah tersebut pernah saya inapi. Dari SD, SMP, SMA saya pernah menginap di sekolah, kalau di kampus sih ga usah di tanya ya, saya sepertinya hampir setiap weekend bisa menginap di kampus, baik itu untuk acara BEMA atau acara himpunan. Saya juga termasuk anak yang aktif dan mudah berteman dengan siapa saja, saya sudah aktif di Pramuka sejak SD, ikut lomba baris berbaris, lomba gerak jalan dan saya pandai memainkan tongkat. Lain hal nya ketika SMP, kalian mungkin ga akan percaya kalau saya adalah komandan PMR di sekolah saya dulu, hahaha... Terus saya dulu seperti punya obsesi untuk menjadi pengurus OSIS, waktu SMP saya bukan pengurus OSIS tapi semua sahabat saya adalah pengurus OSIS, jadi saya udah kaya anggota terselubung, dan saya juga anggota paduan suara yang latihannya sungguh lah padat. Dalam seminggu saya sekolah, saya ga pernah pulang tepat waktu, pasti ada saja kegiatan yang saya lakukan, latihan PMR lah, latihan paduan suara lah, kumpul pengurus OSIS lah (yang sebenarnya saya ga penting juga untuk ikut), diajak ke rumah kakak kelas lah untuk main, kerja kelompok lah, atau mungkin diajak nonton latihan band sama cowok yang lagi PDKT sama saya, hahaha...

Barulah di SMA saya beneran jadi pengurus OSIS dan saya tidak mengikuti organisasi lain. Saya sok-sok mundur dari OSIS karena saya sibuk dengan dunia radio saya dan drama klub saya dengan sahabat-sahabat saya. Saya dari SMA udah siaran di salah satu radio kampus di Bandung dan beberapa kali siaran di radio besar di Bandung. Makanya kemarin saya sempat bilang saya pernah berkeinginan untuk jadi seorang penyiar profesional. 

Dulu, saya berkeinginan untuk ambil S2, saya selalu bulat untuk ingin ambil Master or Business Administration. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, ternyata sekolah itu ga harus di sekolah kok, dan sekolah itu ga perlu ijazah atau gelar. Semua itu tergantung tujuan untuk apa kita bersekolah, dan karir yang kita ambil. Dulu teman saya sempat bertanya uang yang dikasih orang tuanya apakah lebih baik untuk sekolah S2 atau untuk beli mobil, saya tidak bisa menjawabnya karena yang tahu adalah dirinya sendiri mau jadi apa.

Belajar itu tidak harus di sekolah, apa lagi belajar mengenai kehidupan. Sebanyak apapun ijazahmu dan sepanjang apapun gelarmu, the school of life will always surprises you dan dalam sekolah kehidupan, yang ada hanya belajar dan ujian, tidak ada perbaikan nilai ataupun persiapan contekan. 

Jadi, kita semua adalah murid dari sekolah kehidupan yang ujiannya dibuat sangat berbeda untuk masing-masing orang. Tak peduli apapun nilainya, tetaplah belajar agar mampu melewati ujiannya dengan baik.



Namaste

My Own Birthday Present



Sebetulnya tema dari tantangan menulis di hari ke 25 (saya telat, lagi!!) ini adalah mengenai sesuatu yang menginspirasi dari foto ke 11 di hp kita. Kebetulan foto di atas diambil pada tanggal 20 September 2018 jam 23.22 WIB di Citos dalam rangka untuk menunggu pergantian umur saya. Tahun itu saya menghadiahi diri saya sebuah hp dan matras yoga, sebuah matras yang cukup mahal yang sudah saya idamkan sejak tahun 2014 walaupun modelnya berbeda.

Bisa dilihat kan kalau suasana mall nya sudah cukup sepi, tapi entah kenapa saya justru suka mall yang sepi dari pada yang ramai dan padat. Kalau mall nya sepi, saya rasanya punya waktu untuk menikmati suasana dan kemegahan sebuah mall, tanpa harus berbagi atau khawatir kalau jalan nabrak orang. Sama seperti jalanan, dulu waktu SMA saya dan teman-teman saya sering banget jalan-jalan tengah malam di Bandung hanya untuk berkeliling menikmati suasana dan lampu kota. Sampai sekarang pun saya masih sering menikmati lampu kota kalau malam hari atau pemandangan gedung-gedung tinggi di siang hari, ga peduli kalau saya dibilang norak, hehehe...

Entah mulai dari kapan, saya mulai menghadiahi diri sendiri kado ulang tahun. Ini merupakan saya terima kasih dan syukur saya sama diri sendiri, sambil tepuk pundak sendiri saya bilang "good job, terima kasih sudah bertahan dan bekerja keras selama ini". Dan kalau saya sakit, sakit apapun, saya suka minta maaf sama diri sendiri, sama tubuh ini, sama badan saya. Seperti kejadian kemarin, asam lambung saya kambuh lagi setelah terakhir kali saya kambuh yang sampai separah ini di tahun 2017, dalam meditasi saya meminta maaf karena tidak merawat tubuh saya dengan baik. Saya sadar ada hal yang membuat saya khawatir berlebihan, juga saya terlalu abuse dosis minum kopi saya. Dan saya pun minum obat, iya minum obat warung setelah bersih dari obat kimia beberapa tahun, dalam 2 hari saja perut saya sudah baikan dan saya tak lupa juga untuk berterima kasih, juga sekarang lagi berhenti dulu untuk minum kopi.

Jadi sudah kah kamu berbicara dan mendengarkan tubuhmu sendiri?




Namaste 

Pelajaran Hidup

Sepertinya pelajaran dalam hidup saya mulai beragam semenjak saya pindah ke Jakarta tahun 2016. Beragam karena emang banyak banget kejadian yang membuat saya bisa menjadi seperti sekarang ini. Bayangkan saja, saya bekerja di 4 perusahaan hanya dalam 1 tahun. Jarak dari mamah jatuh sakit ke bapak sakit juga kurang lebih hanya beda 1 tahun, dan saya pernah tidak punya uang sama sekali dan tinggal seorang diri di kota yang katanya lebih jahat dari ibu tiri ini. Kegalauan dan kesedihan saja juga saya tuangkan di beberapa tulisan di blog ini.

Banyak yang bisa saya petik dari pengalaman hidup yang naik turun seperti roller coaster ini. Hanya saja, pelajaran yang masih harus saya latih agar saya semakin percaya diri adalah untuk berkata "Tidak" atau untuk lebih berani untuk "speak my mind". Saya merasa dengan saya yang seperti ini saya masih suka mengikuti pendapat orang atau maunya orang lain, jadinya saya merasa kesal sendiri dan menganggap saya kok gampang banget didikte orang. Sifat passive aggresive saya juga kadang tidak membantu dalam hal ini, karena saya akan semakin memainkan seni bernegosiasi saya dalam hidup, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. 

Pelajaran yang saya benar-benar pegang adalah kadang keluarga juga bisa menjadi sumber kesedihan kita. Walaupun darah yang mengalir dalam tubuh kita sama, kita bisa saja terluka, karena benci, iri, atau mungkin memang dari awal komunikasi kita tidak pernah terbuka, yang mengikat hanya kehadiran orang tua. 

Kenapa kesannya saya cuma dapat pelajaran karena saya mengalami berbagai macam masalah dan kesedihan ya? Padahal saya juga belajar berbagai macam hal, saya juga ga peduli kalau orang bilang saya yang sekarang ini sudah berubah, berbeda dengan saya yang dulu. Mungkin orang yang bilang begitu tidak terlalu mengenal saya, karena saya masih Mira yang sama hanya saja dengan isi kepala yang semakin terbukan menerima keberagaman. 

Siapa sangka saya yang asalnya enggan untuk main dating apps malah bertemu dengan banyak orang dari aplikasi-aplikasi itu dan memberi saya cerita, pengalaman dan pelajaran lebih banyak. 
Fun Fact: Dari dating app juga mimpi saya untuk memiliki tattoo cincin pernikahan hancur, karena saya bertemu seorang pria yang memiliki tattoo cincin pernikahan (berinisial malah), tapi mereka bercerai karena sang istri lebih tertarik untuk hidup dengan wanita lain! Sungguh seru kan pelajaran hidup saya? Hahaha...  



Semoga kita semua menjadi makhluk yang tidak pernah berhenti belajar...





Namaste

Friday, 23 October 2020

Surat Cinta

Dear K,


Mungkin suatu saat kamu akan membaca ini. 

Kamu tahu, ini bukan kali pertama saya menuliskan surat cinta elektronik untuk kamu. Surat cinta saya yang sebelumnya isinya biasanya panjang dan penuh keputusasaan dan pertanyaan sampai kamu kebingungan untuk membalasnya. 

Saya pun pernah bilang bahwa saya menuliskan sebuah puisi tentang kamu, saya tahu kamu hanya mengetahui arti dari beberapa kata saja, dan kamu tertarik ingin membacanya. Padahal, puisi tentang kamu tidak hanya satu, hehehe...

Kamu tahu saya bisa sangat manis dan romantis sampai membuat kamu meringis, tapi membaca ini, mungkin kamu akan berpikir saya aneh dan ini hanyalah sebuah tantangan untuk mengisi kebosanan.

Padamu, saya tak pernah menahan semua isi pikiran saya.

Padamu, saya tak pernah menutupi apapun baik luka maupun trauma.

Padamu, satu pertanyaanku menjadi seribu.

Padamu dan isi kepalamu, aku terpaku.




Cheers!

Cerita Tentang Hari Ini

Alasan yang membuat saya selalu terlambat menulis, adalah sebuah cerita yang akan saya deskripsikan hari ini. Pekerjaan dan kelelahan. Sudah cuma itu saja, simpel kan? Apa kita sudahi saja ceritanya? hehehe...

Hari ini (per tanggal 22 Oktober 2020, ya) saya bangun dan membaca chat yang membuat saya tersenyum di pagi hari. Apapun isi chatnya, saya tahu dia baik-baik saja di sana dan menyempatkan waktu untuk sekadar mengirimi saya link Youtube mengenai hal-hal yang menarik perhatiannya, atau mengirimi saya lagu hasil mixing nya seharian, atau cuma membalas sederetan pesan saya sebelumnya dengan emoji. Dia adalah orang pertama yang saya cari kehadirannya setiap saya bangun tidur. 

Pola yang kerja pulang - kerja pulang di saat pandemi seperti sekarang ini, tanpa diselingin bertemu teman dan sahabat atau melakukan hobi ternyata membuat kita merasa lebih kelelahan dari pada rutinitas sebelum pandemi. Jika sudah kelelahan karena pekerjaan dan hal - hal lain yang menguras emosi dan pikiran, saya cuma bisa meditasi lalu tidur, makanya tidak sempat menulis. 

Saya juga belum menemukan pola terbaik untuk kembali berolahraga di tengah gempuran pekerjaan yang semakin ke sini rasanya load-nya semakin bikin saya angkat tangan. Semoga dengan adanya tambahan orang di team saya, saya bisa sedikit membagi tumpukan dalam list saya. Dan karena tuntutan pekerjaan yang membuat saya harus berkoordinasi dengan banyak pihak, saya harus selalu standby dan online dalam WhatsApp. Makanya, kala weekend saya berusaha sekali untuk mengurangi membuka WhatsApp.

Hal yang membuat saya selalu bersyukur walaupun diterjang sana-sini, adalah saya masih punya pekerjaan yang membayar saya dengan penuh di saat banyak orang mengalami pengurangan pegawai atau kena PHK. Saya pun juga ga tahu sampai kapan perusahaan kami sanggup bertahan walaupun aplikasi kami baru saja diluncurkan dan belum melakukan promosi besar-besaran. 

Walaupun polanya mungkin akan selalu sama sampai keadaan bisa sedikit terkendali, entah terkendali menurut versinya siapa, setiap hari pasti saja ada hal baru. Dulu, pekerjaan menuntut saya untuk selalu bertemu dengan orang baru setiap hari, sekarang saya mungkin tidak sering ketemu orang baru tapi concall dengan partner baru yang sebetulnya hampir sama saja, hahaha...

Cerita tentang hari-hari saya mungkin terbaca membosankan di sini, tapi percaya deh kalau kalian mendengarnya langsung dari saya, mungkin lebih menjemukkan lagi atau lebih menarik karena saya menceritakannya penuh emosi.

Hari ini saya melakukan yang terbaik sebisa saya untuk semua peran yang dimiliki. Sebagai teman berbagi dalam segala hal, sebagai pekerja yang memenuhi aturan dan menyelesaikan peran dalam pencaharian, sebagai rekan kerja, sebagai mitra, sebagai manusia bernama Mira. 


Semoga kita semua masih dapat kesempatan untuk bangun esok pagi, dan memulai lagi hari.




Namaste

Thursday, 22 October 2020

L.O.V.E

Kalian pasti pernah membaca atau mendengar kalimat "Cinta itu universal" ya kan? Saking umumnya dengan cerita bertema cinta, cinta bisa jadi sesuatu hal yang disepelekan atau dianggap klise atau menjadi hal yang sangat indah, kuat dan magis. Semua kembali pada orang yang merasakannya masing - masing. Rasanya tak perlu lah saya menjelaskan apa arti cinta untuk saya. Mari kita bedah apa itu cinta secara makna, secara bahasa, seberapa dalam kita tahu tentang arti dari kata cinta, atau kaitanya dengan psikologis, karena kadang sering kita menulis cinta dengan mudah tapi sulit ketika kita harus mengucapkannya secara langsung.

Cinta adalah rasa dan sebuah emosi yang positif, bila kita lihat di Wikipedia, maka kita akan menemukan penjelasannya dengan lengkap baik secara definisi, terminologi dan etimologi, saya yakin kalian belum pernah mencari arti kata cinta dalam Wikipedia, atau sudah? Secara psikologi pun, cinta memiliki banyak pengertian dan pendapat para ahli. Secara teori dikatakan dalam sebuah laman psikologi dan saya tambahkan di sini dari beberapa laman lainnya, bahwa cinta mempunya 3 teori, teori menyukai atau mencintai, teori kasih sayang dan gairah, dan teori segitiga cinta (bukan cinta segitiga loh ya).
Nah, untuk teori pertama, ternyata untuk membedakan antara suka dan cinta itu ada turunannya, yang pertama adalah perhatian, kemudian kasih sayang, lalu keintiman. Untuk teori kedua, antara kasih sayang dan gairah,  kasih sayang adalah emosi yang didasari pada perasaan dan tingkah laku saling menghormati, menghargai, keterikatan, dan kepercayaan, sedangkan yang dimaksud dengan gairah adalah mengarah pada sesuatu yang didasari pada keadaan emosi yang kuat serta ketertarikan seksual. Dan untuk teori yang ketiga mengenai segitiga cinta, 3 hal dalam segitiga itu adalah intimacy, passion dan commitment. 

Dari 3 hal tersebut, ternyata cinta bisa membentuk pola, 
1. Liking (suka) artinya hanya merasakan keintiman tanpa ada unsur gairah dan komitmen
2. Infatuated (tergila-gila) artinya hanya merasakan gairah tanpa ada unsur keintiman dan komitmen
3. Empty love artinya terdapat unsur komitmen tanpa ada unsur gairah dan keintiman
4. Romantic love artinya kombinasi keintiman dan gairah tanpa ada unsur komitmen
5. Companion at love artinya kombinasi keintiman dan komitmen tanpa ada unsur gairah
6. Fatuous love artinya kombinasi gairah dan komitmen tanpa ada unsur keintiman
7. Non love artinya ketiga komponen cinta di atas tidak ada yang biasanya hanya muncul dalam hubungan sekitar yang tidak menetap
8. Consummate love artinya kombinasi dari ketiga komponen di atas dan sering disebut sebagai cinta yang utuh

Mari kita menelaah persaaan kita, saat ini kita berada di pola yang mana atas rasa cinta yang kita miliki sekarang terhadap seseorang. Sebetulnya, dengan membaca pola ini saya juga jadi mengerti, memang secara psikologi, hal di mana seseorang yang sudah memiliki pasangan, tapi tetap mencari orang lain itu bisa terjadi, untuk membuatnya merasa utuh, merasa lengkap, merasa genap. Karena hubungan setiap orang satu dengan yang lainnya, pasti memiliki pola dan bentuk bahasa cinta yang berbeda. Pernah dengar istilah Love Language kan?

Semoga semua makhluk di semesta ini menemukan cinta dan pasangannya masing - masing




Cheers!