Wednesday, 30 November 2016

#30

30 angka yang tidak sedikit, baik dalam penghitungan atau dalam umur, hold, aku belum setua itu, umurku belum sebanyak itu, tahun depan, mungkin.
Tak terasa proyek ini selesai, 30 hari konsisten menulis, walaupun kadang terlambat, entah karena penat atau ide sedang tersendat.
Apa yang kamu dapat dari angka 30? Apa yang kamu petik dari membaca 30 tulisanku? 30 puisi atau prosa tak jelasku, yang kutulis sesuai suasana hati, atau sesuatu yang menjejali imaji.
Tak akan banyak yang baca tulisanku, karena sengaja aku buat untuk tidak bisa dicari mesin pendeteksi, sejak pertama kali kecuali aku meninggalkan jejak kaki.
Iya, aku bisa semisterius itu untuk tulisanku, untuk puisi - puisiku, belum, tingkat percaya diriku belum setinggi itu.
Asal kamu tahu, beri aku satu kata, aku mungkin bisa membuat prosa atau puisi atau rangkaian kata berima, tapi aku tak pernah bisa membuat sebuah cerita.

Haruskah proyek selanjutnya membuat aku berlatih merangkai cerita?
Semoga tidak, itu bisa memakan waktu lama.

#29

Semua wanita atau anak gadis pasti mengalaminya, ketika jalan sendirian dimanapun, ada saja mata yang memandanginya, bersiul untuknya, atau menyapanya tapi dengan tujuan tertentu.

Mungkin para pria tidak pernah mengalami hal itu, tapi percaya deh itu rasanya risih banget. Tidak semua wanita percaya diri diperhatikan sebegitu banyak orang, tidak semua wanita senang dengan hal itu, yang ada hanyalah pertanyaan "apa yang salah dengan saya?" "apakah pakaian yang saya kenakan salah?" dan hal - hal semacam itu yang membuat tidak percaya diri, malu, dan lain -lain.
Dan sayapun merasakan hal yang sama.

Saya baru mendapatkan istilahnya sekarang - sekarang ini, catcalling namanya. Jadi bagi kamu para pria yang suka iseng kalau ada wanita jalan sendirian lewat, berhentilah melakukannya, itu adalah bagian dari kekerasan seksual, dan bukan cerminan dari pria santun yang terpelajar. Dan jika kamu tidak merasa sebagai pria yang seperti itu, pikirkanlah jika yang lewat itu adikmu, kakakmu, atau bahkan ibumu, dan kamu akan tahu rasanya seperti apa.

Tuesday, 29 November 2016

#28

Kadang hanya satu yang aku butuhkan, karena dua kebanyakan, tiga bagai suatu kemewahan.
Aku hanya butuh satu untuk mengadu saat itu, pada yang lainnya akan kuceritakan kemudian bila aku sudah merasa baikan.
Rahasiaku akan kubagi sama rata,  seorang satu, dua orang hanya akan meninggalkan banyak pertanyaan, tiga hanya akan menjadi bahan gunjingan disetiap pertemuan.
Satu sudah cukup bagiku, untuk tetap berbicara denganku, untuk menertawakan cerita lucu atau kisah cinta pilu, untuk membahas musik seru dan film terbaru, untuk menemaniku berburu buku baru.
Seperti Voldemort yang menitipkan jiwanya pada horcrux, kutitipkan jiwaku pada kamu satu persatu, agar tetap dapat membangkitkan aku yang jatuh bertubi-tubi, berkali-kali, untuk tetap berdiri,
Padamu sahabatku.