Thursday, 11 July 2019

Fresh Air

Kekhawatiran ini semakin tinggi buat saya, iya khawatir soal kualitas udara di Jakarta yang menurut data sudah jadi salah satu kota yang kualitas udaranya terburuk di dunia. Bikin parno ga sih? Selain kualitas udara yang buruk dari transportasi dan industri, ternyata masyarakat di kota yang katanya metropolitan ini masih aja ada loh yang bakar sampah. Saya masih ga habis pikir, kenapa sampah harus dibakar? Kenapa tidak dipilah kemudian diolah? Ah, sepertinya akan jadi panjang bahasannya karena ya memang masyarakatnya belum sesadar itu, atau juga pemerintahnya, atau juga industrinya atau juga atau juga.

Bicara soal kualitas udara, karena ingin melindungi diri dan bertahan hidup di kota yang udaranya berpolusi tinggi, saya mulai menggunakan masker khusus dan saya sarankan kalian pun harus mulai melakukannya. Saya sekarang kalau mau pergi ke suatu tempat selain saya cek cuaca di sana saya juga cek kualitas udaranya, dan saya dalam hati suka sedih kalau lihat abang ojek online kerja menerjang ibukota ke sana ke mari tanpa pakai masker, berlebihan ga sih? Saya rasa ga lah ya. Dan tolong digarisbawahi, kalau masker kain dan masker biasa yang disediakan ojek online itu tidak cukup melindungi untuk kualitas udara seburuk Jakarta.

Karena ini juga doa saya semakin kencang, ada tambahan alasan kenapa saya ingin pindah dari Jakarta, hehehe. tolong aminkan doa yang ini ya... Because we all deserve a fresh air.



Cheers,


Wednesday, 10 July 2019

Sebuah Pengingat

Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba saya kepikiran apa yang akan saya tinggalkan kalau saya meninggal. Hari itu terlintas di kepala saya sepertinya saya harus mulai memikirkan untuk mengambil asuransi jiwa, jiwa loh ya bukan kesehatan, dan siapa nanti yang akan jadi ahli waris saya, kenapa dia akan jadi ahli waris saya. Padahal harta apa yang akan saya punya pun sepertinya tidak seberapa.

Hal itu terus berlanjut ketika saya juga buka Facebook, saya ingin mengurangi jejak digital dan menghapus beberapa info yang menurut saya tidak perlu lah saya tuliskan agar semua orang tahu tentang kepribadian saya. Lalu, bergulir ke bagian setting di mana ada pernyataan apa yang akan saya lakukan dengan akun saya bila saya meninggal, siapa yang bisa mengaksesnya, siapa yang akan mengumumkannya. 

Saya tertegun, ada apa ini? Seolah semesta hari itu mengingatkan saya, sedalam apa saya menancapkan kaki menjadi jejak dalam hidup. Secara umur, saya baru akan bertambah tahunnya 2 bulan yang akan datang, tapi kita juga tahu bahwa tidak akan pernah tahu sampai berapa lama kita akan bertahan hidup.
Seperti layaknya sebuah pengingat, ini juga membuat saya berpikir apa yang sudah saya siapkan, amalan yang cukup? Bakti pada orang tua? Berbuat baik pada sesama? 

Apa kalian juga pernah mengalami hal yang sama? Apa hal itu membuat kalian semakin mempersiapkannya karena merasa takut atau malah menjalani dan menikmati hidup dengan sebaik-baiknya? Karena toh kita hidup hanya satu kali dan kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya setelah kita mati. 


We will never know,
Cheers,

Monday, 8 July 2019

Akhirnya, Ketemu!

Ternyata mencari orang yang sengaja menghilang dan tidak ingin ditemukan lebih susah dari pada mencari orang yang memang betulan lost contact.

Ini cerita saya mencari 2 orang teman saya yang sudah lebih dari 10 tahun tidak diketahui kabarnya. Keduanya saya temukan melalui instagram, tolong jangan meragukan bakat stalking saya, saya sendiri sempat berpikir kalau saya sudah seperti detektif dalam mencari informasi seseorang bila saya menginginkannya. Pernah saya membongkar kebohongan seseorang, hingga orang itu malu untuk mengakuinya. Tapi itu lain cerita, kali ini saya ingin cerita tentang saya akhirnya menemukan 2 orang teman saya yang menghilang. 

Yang pertama, sebetulnya dia yang menemukan saya karena dia yang follow duluan, sedangkan teman yang kedua saya yang cari dia. Bertemu mereka di dunia maya tidak ada bedanya dengan bertemu mereka secara langsung, obrolan panjang mengalir dari tanya kabar, separuh nostalgia dan separuh curhat. Tapi dari obrolan itu saya bisa membedakan, mana yang memang hilang karena kesempatan itu tidak pernah ada dan dunia kami tidak pernah bersinggungan secara langsung walaupun tinggal di kota yang sama, dengan yang memang menghilang karena ingin membatasi inner circlenya, tidak ingin ditemukan, menjaga agar hanya orang - orang terdekat yang bisa menghubunginya secara langsung.

Saya bisa menerima semua alasan mereka, toh hubungan kami baik-baik saja. Saya pun bisa menerima kalau salah satu dari mereka merasa lebih nyaman untuk tidak berkomunikasi dengan saya lagi karena suatu alasan. Hal yang saya syukuri adalah saya masih bisa menemukan mereka, menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan dan saya bahagia melihat mereka hidup bahagia dengan keluarganya.

Sungguhlah kalau kami ada kesempatan untuk bertemu langsung saya pasti akan senang sekali, tapi saya juga bahagia karena sudah menemukan mereka dan tak perlu saya cari lagi. Saya doakan semoga kedua teman saya itu selalu berbahagia, semoga semua makhluk berbahagia.


Namaste,