Apakah kamu sudah melakukan apa yang benar-benar ingin kamu lakukan?
Apakah yang kamu lakukan sudah sesuai dengan hati dan prinsipmu?
Untuk pertanyaan di atas, jawaban saya masih belum.
Mungkin sedang menuju ke sana.
Saya sadar, apa yang membuat saya tidak bersemangat untuk bekerja dan apa yang membuat usaha saya tidak maksimal.
Banyak alasan kenapa orang mengesampingkan apa yang benar-benar ingin dilakukannya, terutama untuk masalah pekerjaan. Bisa saja seseorang ingin menjadi pelukis, penulis atau bahkan seorang artis, tapi keadaan menuntutnya untuk melakukan hal lain.
Hal mengesampingkan itu bisa saja akan bertahan lama, selama yang dilakukan masih sesuai hati dan prinsipnya, atau mungkin dilakukan tanpa prinsip sama sekali, we never know.
Yang saya alami adalah hal yang sama, dan bertubi-tubi.
Dengan banyak faktor, mungkin kamu akan mengerti ketika kamu melakukan sesuatu tapi hati kecilmu berkata ini tidak sesuai dengan prinsipmu, hal itu yang akan menjadi faktor penentu performamu.
Ya, saya sadar baru kemarin.
Setelah 4 bulan dan disadarkan kembali, sebetulnya hal ini pernah terlintas pada awal periode saya bergabung, tapi kemudian saya menggunakan alasan lain untuk menerima hal ini dan melawan prinsip saya atau keperfeksionisan saya.
Kemarin saya berani jujur pada seseorang, saya bilang "I feel like I'm lying".
Siapa yang saya bohongi?
Pada dasarnya, tidak ada.
Apakah yang saya lakukan merugikan orang lain?
Tidak.
Lalu kenapa saya merasa ini tidak sesuai dengan prinsip saya?
My little heart said so, this thing is kinda lying.
Apa yang akan saya lakukan selanjutnya?
Mempersiapkan diri untuk melakukan sesuai kata hati.
Apa kamu sudah melakukannya?
Coba pikirkan,
Kalau belum, mari kita mulai segera.
Cheers!
Penggalan kisah hidup, gabungan curahan hati dan imaji, dan sesuatu yang kadang terlintas yang disebut inspirasi.
Wednesday, 8 May 2019
Thursday, 11 April 2019
Loncatan Kesadaran
Hey, I'm back!
Rajin amat sih sekarang nulisnya?
Ya dalam rangka ingin konsisten menulis aja, supaya ide yang ada di kepala bisa dikeluarkan di tempat yang layak, siapa tahu kan idenya bisa menginspirasi yang baca atau yang baca manggut-manggut karena pernah punya pengalaman yang sama dengan yang dituliskan di sini.
Dulu, di akhir tahun 2017 kayaknya, saya pernah nulis setiap hari berturut-turut selama sebulan karena sebuah challenge, kalau dulu bisa kenapa sekarang ga bisa, ya kan?
Jadi ya, karena ide itu kadang datangnya kapan aja, di mana aja dan terlintas waktu kita lagi ngapain aja, kebanyakan kalau nyari waktu yang pas buat nulis ya idenya hilang. Pernah nih lagi di toilet dapat ide matang banget di kepala, sebuah kalimat yang bisa dikembangkan jadi tulisan yang cukup panjang, eh pas depan laptop, nyari posisi enak, udah pasang musik biar mood oke, idenya kabur.
Sebelum idenya kabur nih, mari saya ceritakan, hehehe...
Saya dalam posisi akan butuh sebuah dress formal untuk menghadiri sebuah acara besar bulan depan, terus kan karena saya juga kadang suka cepat capek kalau harus keluar masuk toko di mall, ya saya cari-cari online aja, cuma buat observe harga pasar dan model dan ukuran. Begitu masuk ke ukuran, ini yang bikin saya mengalami loncatan kesadaran. Hahaha... ok, it sounds too serious tapi saya belum menemukan kata yang tepat untuk istilah ini. Tell me if you know the right words for it after you read this story, please.
Saya konsisten mengukur ukuran dan berat badan saya untuk mengetahui progress saya latihan selama ini (goal kedua setelah sehat), untuk berat badan saya hanya menimbang kalau ingat atau pengen aja sedangkan untuk ukuran badan atau lingkar-lingkar ini saya lakukan per tiga bulan (kalau inget juga). Dari hasil beberapa kali ukur, hasilnya lumayan lah lingkar pinggang ga lebar-lebar amat.
Lalu kemudian, waktu kemarin lagi asik cek sana-sini, terus mikir "wah ini kayanya ukuran ini nih yang pas" dan menemukan ukuran si model dan lihat lingkar pinggangnya, otomatis terucap "ini orang makan apa sih" dan merasa lingkar pinggang saya sungguhlah besar apalagi tinggi saya yang cuma segini aja dan lalu sedih sendiri.
Nah ini yang dinamakan loncatan kesadaran, karena di menit berikutnya saya sadar, saya ga bisa membandingkan badan saya sama model itu, kami beda. Mungkin profesinya dituntut untuk punya pinggang sekecil itu, mungkin untuk dapat ukuran itu dia ga bisa makan apa yang saya makan, atau dia harus diet ekstrem yang tidak saya lakukan.
Ini sifat yang menurut saya manusiawi sekali, kadang tanpa sadar kita membandingkan tapi setelah itu kita ingat, kita tidak bisa seperti itu, saya adalah saya, dia adalah dia, kamu adalah kamu dan kita berbeda. Nah waktu kita ingat di menit atau detik berikutnya lah yang saya maksud loncatan kesadaran, untuk kembali sadar menjadi pribadi yang mencintai diri sendiri dan menerima apa adanya.
Adalah momen di mana kita menilai rendah orang lain, berprasangka buruk, merasa lebih baik dari yang lain atau sifat negatif lainnya dan kemudian kita sadar, dibangunkan oleh kebaikan dan rasa rendah hati.
Mungkin bagi setiap orang momen untuk meloncatnya beda-beda, ada yang sadar di detik berikutnya, di menit berikutnya, atau di hari selanjutnya.
Atau mungkin sebagian orang butuh bantuan orang lain untuk menampar agar mampu meloncat dan menjadi sadar.
Semoga kita selalu dalam kesadaran.
Cheers!
Rajin amat sih sekarang nulisnya?
Ya dalam rangka ingin konsisten menulis aja, supaya ide yang ada di kepala bisa dikeluarkan di tempat yang layak, siapa tahu kan idenya bisa menginspirasi yang baca atau yang baca manggut-manggut karena pernah punya pengalaman yang sama dengan yang dituliskan di sini.
Dulu, di akhir tahun 2017 kayaknya, saya pernah nulis setiap hari berturut-turut selama sebulan karena sebuah challenge, kalau dulu bisa kenapa sekarang ga bisa, ya kan?
Jadi ya, karena ide itu kadang datangnya kapan aja, di mana aja dan terlintas waktu kita lagi ngapain aja, kebanyakan kalau nyari waktu yang pas buat nulis ya idenya hilang. Pernah nih lagi di toilet dapat ide matang banget di kepala, sebuah kalimat yang bisa dikembangkan jadi tulisan yang cukup panjang, eh pas depan laptop, nyari posisi enak, udah pasang musik biar mood oke, idenya kabur.
Sebelum idenya kabur nih, mari saya ceritakan, hehehe...
Saya dalam posisi akan butuh sebuah dress formal untuk menghadiri sebuah acara besar bulan depan, terus kan karena saya juga kadang suka cepat capek kalau harus keluar masuk toko di mall, ya saya cari-cari online aja, cuma buat observe harga pasar dan model dan ukuran. Begitu masuk ke ukuran, ini yang bikin saya mengalami loncatan kesadaran. Hahaha... ok, it sounds too serious tapi saya belum menemukan kata yang tepat untuk istilah ini. Tell me if you know the right words for it after you read this story, please.
Saya konsisten mengukur ukuran dan berat badan saya untuk mengetahui progress saya latihan selama ini (goal kedua setelah sehat), untuk berat badan saya hanya menimbang kalau ingat atau pengen aja sedangkan untuk ukuran badan atau lingkar-lingkar ini saya lakukan per tiga bulan (kalau inget juga). Dari hasil beberapa kali ukur, hasilnya lumayan lah lingkar pinggang ga lebar-lebar amat.
Lalu kemudian, waktu kemarin lagi asik cek sana-sini, terus mikir "wah ini kayanya ukuran ini nih yang pas" dan menemukan ukuran si model dan lihat lingkar pinggangnya, otomatis terucap "ini orang makan apa sih" dan merasa lingkar pinggang saya sungguhlah besar apalagi tinggi saya yang cuma segini aja dan lalu sedih sendiri.
Nah ini yang dinamakan loncatan kesadaran, karena di menit berikutnya saya sadar, saya ga bisa membandingkan badan saya sama model itu, kami beda. Mungkin profesinya dituntut untuk punya pinggang sekecil itu, mungkin untuk dapat ukuran itu dia ga bisa makan apa yang saya makan, atau dia harus diet ekstrem yang tidak saya lakukan.
Ini sifat yang menurut saya manusiawi sekali, kadang tanpa sadar kita membandingkan tapi setelah itu kita ingat, kita tidak bisa seperti itu, saya adalah saya, dia adalah dia, kamu adalah kamu dan kita berbeda. Nah waktu kita ingat di menit atau detik berikutnya lah yang saya maksud loncatan kesadaran, untuk kembali sadar menjadi pribadi yang mencintai diri sendiri dan menerima apa adanya.
Adalah momen di mana kita menilai rendah orang lain, berprasangka buruk, merasa lebih baik dari yang lain atau sifat negatif lainnya dan kemudian kita sadar, dibangunkan oleh kebaikan dan rasa rendah hati.
Mungkin bagi setiap orang momen untuk meloncatnya beda-beda, ada yang sadar di detik berikutnya, di menit berikutnya, atau di hari selanjutnya.
Atau mungkin sebagian orang butuh bantuan orang lain untuk menampar agar mampu meloncat dan menjadi sadar.
Semoga kita selalu dalam kesadaran.
Cheers!
Tuesday, 9 April 2019
Tagline Motivasi
Tagline sebuah merk atau perusahaan pasti sudah dipikirkan matang-matang dengan sebuah konsep kampanye yang menyeluruh, dan dibuat semenarik mungkin untuk didengar. Tagline apa yang selalu nempel di kepala kalian?
Baru-baru ini sebuah tagline "Mulai aja dulu" selalu terngiang di kepala saya, mungkin di kepala teman saya juga karena kami selalu membawa tagline itu menjadi sebuah candaan ketika kami berdiskusi. Diskusi mengenai langkah yang harus diambil untuk masa depan kami. Ketika mulai ingin melakukan sesuatu dan salah satunya menemukan suatu halangan atau menjadi pesimis, salah satu dari kami akan berkata "mulai aja dulu".
Bener banget! Tagline-nya bener banget, mulai aja dulu semua yang kamu mau coba lakukan, dari yang kecil aja dulu yang penting kamu mulai, yang penting kamu mencoba, masalah hasil bisa dirasakan kemudian. Kita ga akan pernah tahu bagaimana rasanya, bagaimana efeknya atau bagaimana hasilnya kalau coba aja kita ga pernah.
Hal ini saya lakukan juga untuk diri saya, selain untuk masa depan, yang saya pikir harus saya coba dulu untuk tahu bagaimananya itu. Saya bercita-cita untuk jadi seorang vegetarian dari beberapa tahun yang lalu, more than 5 years ago I think. Kemudian di akhir tahun 2018 lalu saya pikir kenapa ga saya mulai dengan serius untuk menjadi vegetarian, karena selama ini saya hanya setengah-setengah. Kalau perlu ini harus sedikit dipaksakan biar jadi terbiasa, dan saya mulai "paksakan" di awal tahun 2019.
Prinsip agak sedikit dipaksa ini saya dapat dari guru olahraga SMA saya dulu, prinsip beliau ini dibagikan ke semua muridnya supaya mereka beranggapan kalau berolahraga dan merasa sakit-sakit otot itu kemudian adalah hal yang biasa.
"Ala bisa karena biasa,
Ala biasa karena dipaksa atau terpaksa"
Jadi menurut pendapat saya, harus sedikit dipaksa dan atau terpaksa agar bisa mulai dan mencoba.
Apapun yang ingin kita lakukan, selama itu positif, selama itu bermanfaat (bermanfaat buat diri sendiri dulu lebih penting), ya paksain aja, mulai aja, coba aja.
Kalau gagal?
Ya mulai lagi, ya coba lagi, setuju?
Cheers!
Subscribe to:
Posts (Atom)