Tuesday, 13 September 2022

Years 2022 Update

Apa kabar kamu? tempat saya menulis dan menumpahkan ide dan pikiran yang sekiranya masih layak dibaca khalayak ramai. Sudah hampir setahun dari tulisan terakhir saya sampai sekarang, dan saya bingung harus cerita mulai dari mana karena merekap kejadian yang terlalu banyak rasanya mundur terlalu jauh dan membutuhkan banyak waktu bila hanya ditulis dalam 1 postingan saja. 

Jadi kita mulai dari mana? entahlah, yang jelas tahun ini saya rajin mengisi jurnal harian, saya punya buku catatan untuk menulis list pekerjaan kantor, juga buku di mana saya bisa menulis lepas tanpa menggunakan topeng apapun. 

Bicara soal topeng, semakin ke sini, saya merasa topeng saya semakin sedikit dan semakin tipis. Saya semakin nyaman hanya bisa tiduran di akhir pekan sendirian, tidak perlu keluyuran demi alasan pergaulan. Yang hal itupun membuat saya semakin sedikit berteman, sepertinya sekarang teman dekat saya hanya bisa dihitung jari dalam 1 tangan. Seleksi alam terjadi karena banyak alasan, bisa saja karena saya yang semakin menyebalkan, sulit diajak ketemuan atau memang saya udah ga asik lagi.

Awal tahun 2022 ini saya pindah ke kantor baru, perusahaan yang lumayan, fasilitas ok, tapi pekerjaannya bikin kewalahan. Semakin membangunkan jiwa gila kerja yang selama ini masih belum sering terganggu. Kegilaan dengan load pekerjaan ini membuat saya juga semakin menghargai waktu istirahat, tapi juga semakin susah untuk bangun pagi, hahaha... Pernah di suatu hari, ketika Sabtu malam hampir tengah malam dan pikiran saya setengah melayang karena pengaruh alkohol, yang saya lakukan malah menyalakan laptop, membuka e-mail dan menyelesaikan pekerjaan agar hari Senin saya lebih ringan. 

Hal yang saya paling sering keluhkan adalah meeting pagi setiap hari di akhir bulan selama seminggu. Tepat jam 8 pagi meeting dimulai dan menuntut otak saya harus segera fokus dan tune-in. Tapi lucunya, meeting pagi tanpa mandi sudah menjadi hal biasa bagi teman - teman kantor saya, dan ini sangat mendukung saya yang juga kadang malas mandi. Jangan harap meeting kami menggunakan video karena saya yakin, kondisi masing - masing sungguhlah tidak layak tayang. Banyak cerita seru dari kegiatan meeting super pagi ini, dari mulai teman yang on mic dengan suara bantal, backsound bayi menangis atau anak merengek, dan hal - hal lucu lainnya.

Karena kondisi pekerjaan dan kebiasaan baru lainnya yang membuat saya lebih memilih beristirahat saja di akhir pekan tanpa diganggu atau tanpa melakukan apapun, apalagi untuk pulang ke Bandung, rasanya semakin berat saja. Saya pun belum tahu bisa bertahan berapa lama dengan culture perusahaan yang seperti ini. Saya yang mendambakan hidup tenang tinggal di pinggir pantai sekarang masih harus mencari celah waktu mencari damai agar bisa sehat jiwa raga dan waras. 

Yang saya lakukan untuk menjaga kewarasan salah satunya adalah dengan menulis, berbagi cerita di buku, blog, atau dengan orang yang saya rasa bisa saya tumpahi isi kepala dan keluh kesah saya.

Semoga kita semua diberikan kesehatan dan kewarasan, juga kesadaran akan hal tersebut dalam diri kita. Semoga kita semua berbahagia.



Cheers!

Friday, 22 October 2021

Being Open To Vulnerability

Belakangan ini sering banget saya mendengar kata vulnerability, kata ini selalu dikaitkan dengan Kesehatan mental dan kondisi psikologis seseorang. Kalau arti dari beberapa artikel yang saya baca di google sih kata tersebut bermakna sebuah kondisi rentan yang bisa mengganggu kognitif dan psikologis seseorang, yang dapat menyebabkan depresi atau stress. Dan terbuka dengan sifat tersebut berarti kita bisa menerima kondisi diri kita sendiri atau orang lain yang rapuh, rentan dalam situasi yang tidak pasti.

Kenapa saya menulis mengenai salah satu kondisi dari kesehatan mental ini, karena saya pun sedang belajar untuk menerima kondisi ini secara pribadi, maupun dari orang-orang terdekat saya. Ketika saya mengenal seseorang yang baru, katakanlah seorang pria yang saya temui dari situs kencan, saya akan sampaikan bahwa cara untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain adalah dengan komunikasi. Ketika komunikasi lancar, hal ini dapat membuka semua obrolan dan diskusi, pun termasuk hal yang lebih dalam dan lebih serius lagi.

Tapi ternyata, komunikasi saja tidak cukup. Dari pengalaman yang saya alami beberapa kali, komunikasi itu hanyalah sebuah pondasi. Selanjutnya adalah tahapan yang akan saling mengisi. Katakanlah satu waktu, saya berkenalan dengan seorang pria, komunikasi kami lancar dan tidak pernah putus walaupun kami sibuk dengan pekerjaan dan hal lainnya masing-masing. Suatu ketika, saya menghadapi masalah keluarga yang sangat besar yang saya sendiri pun masih belum sanggup untuk mencernanya.  Pria tersebut menuntut agar saya dapat berbagi masalah yang sedang dialami tersebut, dan dari ucapannya terdengar bahwa dia tidak percaya dengan saya. Katanya, saya menjadi seorang pribadi yang berbeda ketika jauh darinya dan bertemu dengan keluarga saya. Sebetulnya, saya ingin berbagi keluh kesah dengannya dan menjadikannya tempat mengadu, tapi ternyata dia tidak bisa menunggu dan saya putuskan untuk tidak melanjutkan kedekatan kami.

Lain halnya dengan yang saya alami kemarin, ini kebalikannya, seorang pria (lainnya) mengatakan dia sedang menghadapi masalah yang cukup berat dalam hidupnya. Sebagai seseorang yang dekat dengannya, saya katakan bahwa dia bisa menceritakan apapun masalahnya kepada saya bila memang dia mau berbagi. Yang terjadi adalah, dia sangat membatasi komunikasi dan tidak bercerita apapun mengenai masalah dan kehidupannya. Sampai pada suatu kondisi di mana saya tidak dapat meneruskan kedekatan kami karena kondisi seperti ini hanya akan saling menyakiti.

Dengan sadar saya mengingat bahwa kejadian ini telah menjadikan saya mengalami posisi di kedua belah pihak, yang dituntut dan yang menuntut. Kemudian juga hal ini semakin membuat saya yakin ketika saya sedang mengikuti sebuah drama korea, di mana ceritanya pemeran utama pria mengalami masalah yang sangat berat dan menggangu kesehatan mentalnya, dan pacarnya, sang pemeran utama perempuannya bersedia menunggu pria tersebut untuk bercerita tanpa melepaskan genggamannya dan komunikasinya.

Jadi, selain komunikasi, untuk menerima seseorang dalam kondisi psikologis yang rentan, bersedia menunggu orang tersebut untuk terbuka dan menceritakan beban atau masalah yang dihadapinya juga sangat penting. Membagikan rasa takut dan rapuh dalam diri kita kepada orang lain tidaklah mudah, terlebih bagi orang mempunyai trust issue

Semua orang di dunia ini pasti memiliki masalah, baik besar atau kecil, yang menganggu kondisi mental dan psikologisnya. Mengenai sanggupkah kita terus memegang tangannya, menunggunya dan terus bersamanya sampai orang tersebut mampu berbagi, adalah sebuah kepercayaan dan kebahagiaan tersendiri.


Semoga kita semua dalam kondisi berkesadaran untuk selalu menjaga kesehatan mental.




Namaste

Friday, 3 September 2021

Intellectual Orgasm

Sejujurnya, saya baru mendengar istilah Intellectual Orgasm itu beberapa hari yang lalu ketika saya bertemu dengan seorang pria, saya mengenalnya melalui salah satu aplikasi kencan yang saya gunakan. Malam itu kami bertemu sambil makan malam, kami ngobrol panjang lebar soal kesibukan sehari-hari, hobi, dan lain-lain, sampai dengan di satu waktu dia menyebutkan bahwa apa yang saya cari ternyata adalah kepuasan intelektual. 

Hal ini bikin saya sadar bahwa percakapan seperti ini yang saya idamkan, sebuah obrolan yang membuat saya menjadi berpikir, mengevaluasi diri, membangunkan rasa ingin tahu yang lebih dalam sehingga terjadilah percikan-percikan, baik itu dipikiran maupun di hati. Hehehe...iya hati, karena saya kenikmatan bertukar pikiran dan obrolan panjang itu tidak pernah saya temukan lagi setelah saya kehilangan kontak dengan seseorang yang saya berani menyebutnya "rumah".

Teman saya bilang, pembicaraan intelektual tersebut bisa saja menjadi toxic bila memang dari apa yang dibicarakan menggiring pada depresi, self-hatred, pesimisme, apatis dan tindakan lainnya, apalagi sampai menjadi anarkis. Nah, pengalaman atas kenikmatan dari diskusi intelegensia ini juga berpengaruh besar apabila apa yang dibicarakan itu semua di-amin-kan, tanpa disaring terlebih dahulu.

Untuk jenis kepuasaan seperti ini, saya tidak bisa mendapatkannya dengan mudah dan berharap setiap pembicaraan dengan teman pria baru membawa kenikmatan dan memberikan percikan. 

Saya juga tidak merasa bahwa saya orang yang pintar dengan intelegensi tinggi, saya hanya seorang yang suka mengobrol, suka mendengarkan dan belajar hal baru. Saya adalah penikmat akan sensasi klimaks dari pembicaraan yang membawa saya ke dunia baru.




Cheers!