Wednesday, 2 September 2020

Cita-Citaku

Tahun 2020 adalah tahun kedua saya belajar untuk menjadi seorang manusia yang lebih mencintai bumi dan lingkungan dengan mencoba jadi seorang vegetarian. Kalau saya coba ingat kembali dan merunut ke belakang, sebetulnya menjadi seorang vegetarian/ vegan sudah menjadi cita-cita saya sejak tahun 2008 dan baru terwujud lebih dari 10 tahun kemudian. 

Kalau kalian belum tahu, mungkin saya jelaskan sedikit bedanya vegan dan vegetarian ya. Jadi, vegan itu adalah sebuah sebuah filosofi, prinsip atau gaya hidup dimana orang tersebut sudah tidak mengkonsumsi produk hewani sama sekali, pun termasuk madu. Sedangkan vegetarian, adalah orang yang menganut prinsip yang sama tetapi masih mengkonsumsi telur, susu dan produk turunannya, dan juga madu. Oh, dan satu lagi, orang yang juga masih mengkonsumsi ikan, itu disebut dengan pescatarian. Untuk lebih lengkap soal jenis-jenisnya karena istilahnya lumayan banyak, silakan cari sendirin aja ya, hehehe...

Saya sering ditanya, apa alasan saya menerapkan pola makan dan hidup seperti itu? Apa ada hubungannya dengan yoga yang sering saya lakukan? Atau dengan meditasi yang juga saya kerap pelajari? Jawabannya, ya karena saya ingin aja, kalau udah cita-cita kan kita pasti akan cari cara untuk belajar dan berusaha untuk meraihnya, ya kan? Terus, seseorang yang menjadi vegan juga sering dikaitkan dengan kecintaanya terhadap binatang, apakah saya seorang pecinta binatang? Bersiaplah kecewa, karena jawaban saya adalah saya lebih mencintai bumi dan semesta dengan segala isinya. Saya bukan seseorang yang sangat mencintai binatang, saya juga belum pernah punya hewan peliharaan loh, namun bila suatu saat saya mampu berkomitmen dan kesempatan untuk merawat binatang, saya ingin merawat seekor anjing (nanti saya cerita soal komitmen merawat binatang).

Mempraktekan sebuah filosofi atau prinsip dalam hidup, itu pasti ada rintangannya atau cemoohannya. Apalagi kalau di lingkungan sekitar kita masih jarang seseorang yang menerapkan hal itu. Seorang teman kantor pun sering menggoda saya dengan kalimat "makan daging lah biar hidupnya lebih berwarna dan bersemangat" tapi dia tahu saya sudah tidak lagi tergoda dengan hal itu jadi ya saya balas aja dengan bilang tahu dari mana kalau hidup saya ga berwarna, hehe...
Sebetulnya, dalam proses belajar ini pun saya juga semakin mengenal tubuh saya dan reaksinya dari apa yang saya makan. Pernah suatu waktu, ketika dalam saya mencoba untuk berhenti makan ikan dan protein hewani yang saya makan hanya telur, badan saya bereaksi sampai bisulan dan saya sudah tidak kuat lagi makan telur ataupun mencium bau telur dan itu adalah pertama kalinya saya bisul seumur hidup, hahaha...

Terus ya, kalau dipikir-pikir, saya rasa tanpa kita sadari setiap orang bisa memilih jalannya masing-masing untuk mewujudkan rasa cinta dan terima kasihnya pada bumi dan semesta. Bila kalian lebih nyaman untuk menjadi seseorang yang giat dalam menjaga lingkungan dengan mengurangi pemakaian kantong plastik, sedotan juga styrofoam, atau seseorang yang sangat concern dengan produk berbahan natural dan organik, atau seseorang yang mulai membeli produk dalam negeri demi mengurangi jejak karbon dan emisi, atau seseorang yang aktif melindungi hewan ataupun menjadi seorang vegan atau hal lainnya yang tujuannya adalah untuk melestarikan alam semesta, ya lakuin aja.
Carilah jalan nyaman dan prinsipmu sendiri untuk melindungi bumi, rumah kita, yang memberikan segala isinya untuk kenyamanan hidup manusia.

Saya hanya berharap, semoga kita semua dapat menjadi manusia yang berkesadaran. Sadar terhadap apa yang kita lakukan, yang kita ucapkan, yang kita makan, dan yang kita pikirkan. Mungkin kalau kita udah sadar, kita akan selalu merasa cukup dan ga jadi manusia yang rakus lagi.


Lokah samastah sukhino bhavantu
May all beings everywhere be happy and free


Cheers!

Thursday, 4 June 2020

100 Hari

Besok adalah tepat 100 hari meninggalnya Bapak.
Rasanya seperti baru kemarin saya memeluk jasad Bapak untuk yang terakhir kalinya, atau sungguh saya tidak merasakan kehilangan karena saya masih memimpikannya hampir setiap malam.

Dalam mimpi, semua dalam keadaan sehat dan bahagia, walaupun saya kadang tersadar kalau saya sedang bermimpi, tapi saya menikmatinya. Ah sial, kenapa waktu menuliskan ini tiba-tiba saya berurai air mata. Padahal sebelumnya saya baik-baik saja, saya sedang mencoba mencari distraksi dari pekerjaan yang harus saya selesaikan.

Besok juga berarti kurang lebih 100 hari saya tidak pulang ke rumah.
Entah kenapa, ada sebagian kecil dari hati saya enggan untuk pulang. Enggan untuk menerima kenyataan kalau saya pulang, Bapak sudah tidak ada. Dan saya hanya akan bisa mengingat kenangan kami bersama sambil menangis.

Dalam mimpi, kami masih tinggal di rumah lama kami, di lingkungan di mana saya dibesarkan.
Dulu, waktu saya menceritakan mimpi saya ke Bapak tentang rumah di mimpi saya selalu saja rumah lama kami, Bapak bilang itu karena kami menghabiskan banyak waktu hidup kami di rumah itu, di lingkungan itu.

Besok juga berarti hampir 100 hari saya tidur dengan lampu menyala.
Setelah hari itu, ada beberapa peristiwa yang meninggalkan trauma dan membuat saya takut, bahkan saya takut untuk tidur. Bukan, bukan kematian Bapak yang meninggalkan trauma, tentu saja saya sedih, tapi ini hal lain dan peristiwa ini berkaitan.

Saya tidak tahu besok akan seperti apa, yang jelas, saya akan mendoakan Bapak, selalu.

Sudah 100 hari, sungguh waktu berputar terasa sangat cepat.

Semoga kita masih diberikan kesempatan hidup lebih lama lagi,
Semoga kita semua tetap sehat dan waras.



Namaste





Tuesday, 14 April 2020

Mandiri, Minum Sendiri

Tadi pagi rasanya pengen banget langsung menuliskan cerita hal remeh temeh tentang kemandirian seorang perempuan, alias ya cerita tentang saya sendiri. Emang hal mandiri apa sih yang saya lakukan sampai harus saya banggakan dan menjadikannya sebuah tulisan?

Jadi begini, ditengah kondisi pandemi dan semua orang disarankan agar tetap di rumah, hal ini juga berpengaruh pada pasokan rantai makanan dan suplai lainnya termasuk air mineral dalam kemasan galon. Sebagai orang yang minumnya termasuk banyak, iya banyak karena 19 Liter air bisa habis dalam 7-10 hari saja, dan stok galon yang dijual di kosan kosong, seorang teman menyarankan agar saya beli galon di tetangga karena stoknya masih banyak.
Biasanya saya hanya menerima galon di depan pintu tanpa harus susah payah mengangkut dan mengangkatnya ke lantai 2. Kali pertama saya beli galon di tetangga, saya merasa kewalahan dan agak sedikit kecewa karena teman kosan saya, yang adalah pria, tidak membantu saya mengatasi masalah galon air ini dan saya harus bersusah payah sendiri. Di satu sisi, saya merasa saya harusnya dibantu karena saya seorang perempuan tapi di sisi lain, ketika teman tersebut akhirnya bertanya apakah saya perlu bantuan atau tidak, dengan bangganya saya bilang tidak perlu, saya bisa sendiri. 

Kali kedua, saya bisa melakukan semuanya sendiri tanpa merasa kecewa karena tidak dibantu atau merasa kewalahan dan rasanya bangga sekali menjadi seorang perempuan mandiri. Memang bukan hal besar, tapi boleh dong ya mengapresiasi diri sendiri, di saat kita semua harus bersitegang untuk tetap sehat dan waras, saya mampu  mengatasi sebuah masalah untuk bertahan hidup. 


Apa cerita kemandirian kalian untuk bertahan hidup?


Semoga kita semua mampu melewati ini semua.


Cheers,