Besok adalah tepat 100 hari meninggalnya Bapak.
Rasanya seperti baru kemarin saya memeluk jasad Bapak untuk yang terakhir kalinya, atau sungguh saya tidak merasakan kehilangan karena saya masih memimpikannya hampir setiap malam.
Dalam mimpi, semua dalam keadaan sehat dan bahagia, walaupun saya kadang tersadar kalau saya sedang bermimpi, tapi saya menikmatinya. Ah sial, kenapa waktu menuliskan ini tiba-tiba saya berurai air mata. Padahal sebelumnya saya baik-baik saja, saya sedang mencoba mencari distraksi dari pekerjaan yang harus saya selesaikan.
Besok juga berarti kurang lebih 100 hari saya tidak pulang ke rumah.
Entah kenapa, ada sebagian kecil dari hati saya enggan untuk pulang. Enggan untuk menerima kenyataan kalau saya pulang, Bapak sudah tidak ada. Dan saya hanya akan bisa mengingat kenangan kami bersama sambil menangis.
Dalam mimpi, kami masih tinggal di rumah lama kami, di lingkungan di mana saya dibesarkan.
Dulu, waktu saya menceritakan mimpi saya ke Bapak tentang rumah di mimpi saya selalu saja rumah lama kami, Bapak bilang itu karena kami menghabiskan banyak waktu hidup kami di rumah itu, di lingkungan itu.
Besok juga berarti hampir 100 hari saya tidur dengan lampu menyala.
Setelah hari itu, ada beberapa peristiwa yang meninggalkan trauma dan membuat saya takut, bahkan saya takut untuk tidur. Bukan, bukan kematian Bapak yang meninggalkan trauma, tentu saja saya sedih, tapi ini hal lain dan peristiwa ini berkaitan.
Saya tidak tahu besok akan seperti apa, yang jelas, saya akan mendoakan Bapak, selalu.
Sudah 100 hari, sungguh waktu berputar terasa sangat cepat.
Semoga kita masih diberikan kesempatan hidup lebih lama lagi,
Semoga kita semua tetap sehat dan waras.
Namaste
Penggalan kisah hidup, gabungan curahan hati dan imaji, dan sesuatu yang kadang terlintas yang disebut inspirasi.
Thursday, 4 June 2020
Tuesday, 14 April 2020
Mandiri, Minum Sendiri
Tadi pagi rasanya pengen banget langsung menuliskan cerita hal remeh temeh tentang kemandirian seorang perempuan, alias ya cerita tentang saya sendiri. Emang hal mandiri apa sih yang saya lakukan sampai harus saya banggakan dan menjadikannya sebuah tulisan?
Jadi begini, ditengah kondisi pandemi dan semua orang disarankan agar tetap di rumah, hal ini juga berpengaruh pada pasokan rantai makanan dan suplai lainnya termasuk air mineral dalam kemasan galon. Sebagai orang yang minumnya termasuk banyak, iya banyak karena 19 Liter air bisa habis dalam 7-10 hari saja, dan stok galon yang dijual di kosan kosong, seorang teman menyarankan agar saya beli galon di tetangga karena stoknya masih banyak.
Biasanya saya hanya menerima galon di depan pintu tanpa harus susah payah mengangkut dan mengangkatnya ke lantai 2. Kali pertama saya beli galon di tetangga, saya merasa kewalahan dan agak sedikit kecewa karena teman kosan saya, yang adalah pria, tidak membantu saya mengatasi masalah galon air ini dan saya harus bersusah payah sendiri. Di satu sisi, saya merasa saya harusnya dibantu karena saya seorang perempuan tapi di sisi lain, ketika teman tersebut akhirnya bertanya apakah saya perlu bantuan atau tidak, dengan bangganya saya bilang tidak perlu, saya bisa sendiri.
Kali kedua, saya bisa melakukan semuanya sendiri tanpa merasa kecewa karena tidak dibantu atau merasa kewalahan dan rasanya bangga sekali menjadi seorang perempuan mandiri. Memang bukan hal besar, tapi boleh dong ya mengapresiasi diri sendiri, di saat kita semua harus bersitegang untuk tetap sehat dan waras, saya mampu mengatasi sebuah masalah untuk bertahan hidup.
Apa cerita kemandirian kalian untuk bertahan hidup?
Semoga kita semua mampu melewati ini semua.
Cheers,
Monday, 23 March 2020
Ini Gila
Saya pikir, saya pernah menulis sesuatu dan mem-posting-kannya di tahun ini.
Sungguh, tahun 2020 ini memberikan warna dan rasa yang luar biasa, hingga bisa jadi gila.
Saya pikir, di tahun ini saya bisa memulai semuanya dengan baik, menata kembali hidup dan meluruskan kembali lintasan yang kemarin sempat carut marut.
Kembali bekerja di kantor dengan jadwal yang sudah jelas, meja kerja dan alat tulis serta laptop sudah lengkap, tidak ketinggalan pula kartu nama dengan posisi baru tertera di sana untuk menjaga profesionalisme.
Belum sempat berbangga pada keluarga, saya ditimpa duka. Meninggalkan luka yang menganga yang hanya bisa disembuhkan oleh waktu, berlapang dada dan doa. Sosok Bapak tak mungkin bisa digantikan siapapun di dunia.
Ketika saya mulai mencoba berbenah hati, bersahabat dengan lara, dan berdamai dengan trauma, semesta seolah berkata "Tunggu dulu, tahan sebentar", hingga sampailah kabar yang membuat saya kembali bernestapa, hilang satu sahabat tersayang.
Saya pikir, pasti ada hikmah dibalik sebuah peristiwa, bersungkawa membawa sahabat lama kembali bercerita, bertukar kabar dan canda, saling mengejek dan memaki tak lupa diselingi diskusi dan saling mengkritisi.
Saya pikir, tak masalalah saya membawa misi pribadi demi jiwa yang waras dan masa depan yang masih luas. Tapi tak ada yang lebih gila dari hal-hal yang membuat saya kembali menghisap batang demi batang nikotin di tengah ketakutan orang akan wabah yang menyerang paru-paru, memicu rindu pada masa lalu, mengaduk emosi seperti layaknya hati ini kue bolu, dan membuat saya semakin fokus untuk berdoa dan meditasi dan ketagihan makan nasi.
Tak ada yang lebih gila dari sebuah cerita di suatu senja, seseorang berkata bahwa dia pernah beristri 3, saya menganga dan berkata "Ini sungguh gila".
Semoga semua mahkluk hidup aman, sehat, berbahagia dan dilindungi dari virus bernama Corona.
Cheers,
Subscribe to:
Posts (Atom)