Saturday, 15 July 2017

Dosa Itu Cinta

Jika aku harus mengakui kesalahanku,
Maka kukatakan sekarang bahwa salahku adalah terlalu menginginkanmu,
Kesilapanku adalah selalu merindukanmu,
Dan dosa terbesarku tak dapat ku katakan karena ini sungguh bukan sebuah pengadilan.

Namun, jika aku dapat menuntut kebebasanku,
maka aku akan meminta untuk bebas mencintamu kapanpun aku mau,
maka aku akan memperjuangkan untuk dapat menemuimu tanpa batas waktu,
dan aku menghendaki sebuah ikatan lebih dari pernikahan.

Seandainya kamu ingin tahu usahaku,
Maka akan kuurai satu persatu,
Dimulai ketika dalam mimpiku, sudah ada kamu, kemudian ketika dalam doaku mulai tersebutlah namamu, lalu tanpa kusadari semuanya hanya tentangmu.

Aku membutuhkanmu untuk saling melengkapi, untuk mengenapi, untuk berbagi.
Aku membutuhkanmu untuk kucintai, dan tak akan pernah kukurangi.

Adakah dosaku yang harus kuakui lagi?

Buku, Apa?

Sebuah kebebasan mutlak adalah ketika seseorang terlepas dari putaran arus kelahiran dan kematian, begitu menurut umat Buddha. Membaca dan menggilai sebuah buku yang penulisnya menyelipkan perjalanan spiritualnya menjadi sebuah cerita fiksi fantasis, tentu saja membawa pengaruh juga pada saya, pada pemikiran, pandangan hidup and yes, my spiritualism. Lalu, bila kemudian muncul pertanyaan tentang agama saya dan bagaimana saya beribadah dan hukumnya mencampuradukkan sebuah pandangan agama, maka lebih baik tolong berhenti saja membacanya, dan kembali lagi setelah tulisan tentang agama dan privasi sudah mood saya tulis, Ok?.

Nah, sebagai penggemar dari buku - buku itu, tak bosan saya membacanya bergantian, dari buku pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, kemudian saya ulangi lagi dari awal atau lompat sesuka hati atau ulangi lagi pada suatu buku dimana saya jatuh cinta pada karakternya atau lompat pada buku yang saya ingin praktekkan tulisannya. Ok, sudah mulai terdengar gila ya, hehehe...

Kalau boleh jujur, saya bukanlah orang yang suka membaca biografi orang - orang hebat atau membaca buku kiat - kiat sukses seseorang, atau buku yang berat yang kesannya sangat berilmu. Saya penggemar cerita fiksi, dari literatur modern hingga sastra lama atau melayu kuno saya lahap, saya pernah membaca buku kumpulan cerpen yang menceritakan tentang suatu daerah di Jakarta Pusat bernama Harmoni pada jaman penjajahan.

Lalu apa inti dari tulisan ini? Saya ga tahu, kebetulan saja saya sore tadi baca buku puisi yang isinya cukup berani atau terlalu berani, atau rasanya saya baca buku harian seseorang dalam bentuk buku yang dicetak penerbit tanpa editing atau diedit tapi menurut editornya itu buku yang sangat luar biasa out of the box, saya hanya berpikir dia beruntung, kemudian saya ingin menulis puisi. Baiklah mari kita menulis puisi.

Wednesday, 5 July 2017

Imaji Anak Laki - Laki

Ini cerita tentang seorang anak laki - laki, yang mengagumi seorang gadis kecil.
Dia telah terpesona pada senyumnya, tertakjub - takjub pada bagaimana cara gadis kecil itu memandang nilai hidupnya, terkagum pada kecerdasannya, dan terpikat pada semua karyanya.

Anak laki - laki yang hidup dalam khayalannya, bahwa gadis kecil itu tersenyum, tertawa, dan bercerita semua padanya. Yang hanya bisa dipandanginya dari balik pintu kaca, dan tak pernah ada sapa.

Anak laki - laki yang hidup mengumpulkan keberanian dan merapalkan doa dalam hati sepanjang malam, hanya untuk bertanya apakah gadis kecil itu telah makan.

Dia adalah seorang anak laki - laki yang kelak, bercita - cita untuk dapat mengulurkan tangannya dan berjabat erat, berani mengakui perasaan yang tersimpan di hati, dan mampu memberikan keadilan tak hanya menuntutnya saja.

Dia adalah seorang anak laki - laki yang sedang belajar melangkah, dan siap untuk berlari dengan persiapan sepenuh hati.