Thursday, 12 December 2019

I Miss You - Beyonce

I thought that things like this get better with time
But I still need you, why is that?
You're the only image in my mind
So I still see you around

I miss you, like everyday
Wanna be with you, but you're away
Said I miss you, missing you insane
But if I got with you, could it feel the same

Words don't ever seem to come out right
But I still mean them, why is that?
It hurts my pride to tell you how I feel
But I still need to, why is that?

I miss you, like everyday
Wanna be with you, but you're away
I said I miss you, missing you insane
But if I got with you, could it feel the same

It don't matter who you are
It's so simple, feel it
But it's everything no matter who you love
It is so simple, feel it
But it's everything

I miss you, like everyday
Wanna be with you, but you're away
I said I miss you, missing you insane
But if I got with you, could it feel the same

It don't matter who you are
It's so simple, feel it
But it's everything no matter who you love
It is so simple, feel it
But it's everything


P.s: Am I losing you again?

Friday, 1 November 2019

It's All About Choices

Sebetulnya sudah beberapa hari ini saya berniat untuk menulis, ide sudah ada di kepala dan menggantung di depan mata, tinggal dipetik, gitu katanya. Tapi ternyata, distraksi itu lebih kuat sampai akhirnya lupa atau keburu ngantuk atau ada hal yang harus saya lakukan yang tidak di depan laptop. 
Bicara mengenai pilihan, semakin ke sini saya merasakan saya semakin idealis. Ada nilai-nilai tertentu yang saya pegang yang mungkin bisa saja menurut orang lain berlebihan. Apa saya tanya orang lain mengenai hal ini untuk membandingkannya? Tentu saja tidak, saya cuma menyimpulkan sendiri bahwa nilai atau prinsip yang saya pegang ini seperti sebuah pernyataan sikap atas apa yang saya yakini baik.

Berbelit-belit ya? Ga apa-apa lah, toh saya menulisnya untuk kepuasan pribadi. I don't know if there are other people who read my blog and enjoy my writings. Jadi ceritanya karena status unemployed ini, after I've been interviewed in several places, every time I finished it, I always reflecting my self whether I really want to join with the company and do the business or not. Contohnya nih ya, I've been interviewed in a pharmaceutical startup then I got the insight that if I do the business and expand it, I will make people consume more on chemical drugs instead of making them healthy. Terus lagi di perusahaan furniture, I was thinking like how I can join and promote the campaign of living in minimalism if I'm working in a furniture company and asked people to buy more. Dan beberapa renungan lain yang berasal dari beberapa perusahaan.

Ribet ya? Entahlah, saya juga heran sama hati dan pikiran saya sendiri. Dari beberapa kejadian itu kemudian saya berkesimpulan, kalau cita-cita saya adalah ingin membantu orang lain, membantu masyarakat secara langsung dan terasa manfaatnya, selain saya menjadi guru yoga dan meditasi dan punya studio sendiri, saya bisa mencapainya dengan kerja di perusahaan yang sejenis social enterprises, atau yayasan apa gitu yang memang bisa berdampak langsung ke masyarakat atau komunitas tertentu yang dibantu.

Saya masih terus mencoba semua cara dan tidak menyerah, walaupun kadang saya juga butuh untuk ditepuk pundaknya dan dikuatkan. Karena ternyata dalam keadaan seperti sekarang ini, saya mulai sadar di mana titik lemah saya, ketika saya bisa langsung meleleh secara mental dan air mata. Ditoel sedikit aja udah ambyar kalau pakai bahasa fans nya Didi Kempot.

Jadi ya seperti yang saya bilang tadi, semuanya adalah pilihan dalam mencoba untuk meneruskan hidup ini, ya kan? Toh dalam soal pilihan ganda pun ada pilihan di mana semua jawaban benar, jadi mau coba yang mana pun selama menjalani dengan sebaik-baiknya, akan menghasilkan sesuatu yang baik juga.

Semoga kita semua menemukan nilai hidup kita dan memegangnya dengan penuh keyakinan dan demi kebaikan, baik itu diri sendiri, keluarga, masyarakat, negara, dunia dan semesta.
Semoga kita semua sukses menjalani prosesnya dan menikmati hasilnya.



Cheers!

Wednesday, 2 October 2019

Consciously Let The Wound Go

Pagi ini saya terbangun dari tidur dengan perasaan bingung. Bagaimana bisa saya memimpikan seseorang yang sudah lama tidak bertemu, tidak ada kontak sosial media atau kontak secara langsung bahkan saya tidak pernah mendengar kabar darinya. Didorong oleh rasa ingin tahu yang besar alias kepo, saya cek salah satu sosial medianya yang sudah lama tidak ada update. Menyusuri lini masanya dari waktu ke waktu, mengingat beberapa moment kami bersama, semakin membuat saya sadar bahwa ternyata peran saya tidak sebesar itu dalam hidupnya.
Jika memang ada luka di hati saya yang mungkin secara tidak sadar masih berbekas hingga sekarang, itu adalah sepenuhnya proyeksi, harapan, ekpektasi atau mungkin hanya imajinasi saya saja terhadap dirinya. Tidak pernah ada pernyataan, tidak pernah ada closure, yang dulu pernah ada hanya kabar angin berhembus kiri kanan, lirikan saat berpapasan, merasa nyaman dan saling mengandalkan di waktu yang tidak bersamaan, kemudian disusul sebuah undangan pernikahan.

Membaca lini masanya dan mengingat-ingat hal tersebut seperti meditasi untuk saya. Sebuah meditasi untuk menyembuhkan luka yang tidak saya sadari ternyata masih ada. Setelah beberapa tahun berlalu, hari ini saya melepaskan perasaan itu, perasaan yang ternyata meninggalkan luka dan dengan menyadarinya, merelakannya pergi, lukanya pun akan pergi dan sembuh.

Sebetulnya apa yang membuat saya tiba-tiba berbicara mengenai luka yang tanpa sadar ada dalam diri saya adalah karena saya sedang tertarik untuk menggali inner child emotions saya, ditambah lagi kemarin saya mendengar sebuah podcast yang membahas mengenai healthy relationship. Dengan mengetahui inner child emotions, saya bisa menyadari dari mana ketakutan dan trauma atau luka di hati saya berasal yang membentuk pribadi, emosi dan jiwa saya seperti sekarang.
Melalui sebuah prosesi meditasi, kita dapat mengetahui dari mana trauma itu muncul. Untuk kejadian saya ini, yang dipicu dari sebuah mimpi membuat saya semakin ingin menggali dan merelakan semua luka itu pergi. Mungkin untuk saat ini saya masih belum mundur jauh untuk menapaki jalur emosi saya, tapi ini adalah sebuah awal.

Semoga kita semua semakin sadar sepenuhnya akan diri kita masing-masing. Semoga kita semakin mendengar dan dapat berkomunikasi sepenuhnya dengan diri kita masing-masing. Pada tubuh, pada hati, pada emosi, pada jiwa dan pikiran.

Semoga kita semua hidup berkesadaran dan berbahagia,
Namaste.



Cheers!