Saturday, 13 January 2018

Kabarku (?)

Aku baik-baik saja,
Walaupun mungkin sudah pernah kukatakan berulang-ulang bahwa tahun lalu bukanlah tahun terbaikku, namun aku mampu menutupnya dengan senyum bahagia.
Seperti tahun dimana seorang anak sedang menghadapi ujian naik kelas, yang tak cukup hanya dengan lulus satu mata pelajaran saja. Aku harus menguasai semuanya dengan nilai diatas rata-rata.

Aku baik-baik saja,
Walaupun kadang hidup seperti sedang membangun sebuah kuil suci, adakala batu menimpa kaki, mata kelilip pasir, atau badan tersiram air,
Oleh rasa kecewa yang menjadikannya bukan hal luar biasa,
Dengan semua orang yang mencintaiku apa adanya dan yang membenciku seada-adanya.

Percayalah bahwa aku baik-baik saja,
Sebaik aku bisa tahu mana teman yang baik untukku, yang bisa selalu kusempatkan untuk bertemu,
Meskipun lingkaran pertemanan semakin mengerucut tak seperti dulu dan rasa percaya menjadi semu.

Apapun yang terjadi, jawabku akan selalu itu,
dengan air mata atau luka atau bahagia atau tawa atau kecewa atau duka atau jeda,
Aku baik-baik saja.


Tuesday, 26 December 2017

Malam Manis

Kadang ingatan menarikku terlalu jauh ke masa lalu,
Hanya dengan melihat taksi biru,
Sekonyong-koyong disodorkannya memori yang berputar kembali seperti film hitam putih,
Yang dulu sempat terasa manis,
Dengan jarak yang hanya sepanjang selendang,
Selalu mencari cara untuk bersama lebih lama walaupun itu cuma dengan matrabak kismis ataupun perdebatan retoris,
Lalu kencan yang sungguh tidak romantis tapi berakhir dengan diantar sampai pintu kamar,
Dan malu-malu tersipu saling mengucap rindu.
Ahh.. Kenangan saat itu,
Sudah kulupa sakitnya dan sembuh lukanya.
Terima kasih telah melukis senyum malam ini.

Monday, 11 December 2017

Rasa Hidup

Ketika hidup memberikanmu rasa pahit dan kamu harus menelannya,
ketika hidup sangat menyayangimu sehingga kamupun diberinya rasa asam, membuat lukamu semakin menganga,
dan tak hentinya hidup mencintaimu untuk mengenalnya lebih dekat dengan membuatmu terjatuh dan tertatih.
Terlintas dalam pikirmu untuk menantang hidup, "beri aku rasa lain!" tantangmu tapi kemudian kelu,
Seperti pertaruhan, kamu dengan sengaja telah membuatnya tidak nyaman, katamu "sudah cukup kau dalam ayunan!" bahkan kau paksakan itu dengan menggunakan perasaan.
Sang hidup tersenyum dan berkata padamu bahwa ini adalah pelajaran, untuk kamu mengenal dan mencintai lebih dalam sesuatu yang lebih indah dari yang pernah kamu bayangkan, dan kelak sulit untuk kamu untuk meninggalkan, sesuatu yang bernama Kehidupan.